Rabu, 27 Agustus 2014

Semoga Allah Meridloi Kita


Entah berapa lama kisah hidup dan drama masing-masing jiwa akan dipentaskan dalam panggung dunia. Entah berapa lama panggung itu sanggup menampung pentas manusia, dan semua telah ditentukan batas kemampuannya masing-masing. Peran manusia dalam panggung itu sangat terbatas yaitu sebatas umurnya, demikian juga dengan panggung dunia itu yang kian lama kian rapuh. Tinggal menunggu kepastian Allah untuk merobohkan panggung itu.


Hari berganti hari dan manusia pasti akan pulang. Tak ada pentas yang tak usai. Saya hanyalah salah satu dari bertrilyun-trilyun aktor yang turut pentas dalam panggung ini. Mudah-mudahan saya tidak lupa bahwa panggung ini hanyalah persinggahan sebelum saya benar-benar pulang dalam sebuah perjalanan panjang menuju Allah (Rihlahtulillah). Mudah-mudahan catatan harian yang saya tulis sebelum saya benar-benar diusung dalam tandu dan dimasukkan dalam perut bumi bisa selalu mengingatkan diri saya sendiri dan siapa saja yang sudi membacanya. Bahwa hidup ini sangat singkat, bahwa segala sesuatu berlalu seperti mimpi dan tiba-tiba kita berada di ujung episode kehidupan. Tiba-tiba nadi sudah tidak mau berdenyut, nafas tinggal satu-satu dan kaki saling bertaut. Sayang kita tidak pernah tahu kapan episode akan berakhir. Namun episode pasti berakhir.

“Jika kehidupan ini baik untuk hamba wahai Tuhanku, jadikanlah hamparan bumi-Mu sebagai kebun untuk amal-amalku. Namun jika kehidupan ini buruk untuk hamba wahai Tuhanku, perut bumi lebih hamba sukai dari pada hamparannya. Dan matikanlah hamba dalam keadaan syahid, akhirkanlah hamba dalam khusnul khotimah. MasyaAllah Laa quwwata ila billah.”

Allah Maha Pengampun, Allah Maha Penyayang, Allah Maha Mengetahui,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar