Rabu, 25 Juni 2014

Orang Baik Belum Tentu Masuk Surga


Apakah Bunda Theresa yang sepanjang usia nya dibaktikan untuk umat miskin India harus masuk neraka ? Apakah Paus Paulus II yang pernah menjamu calon pembunuhnya dengan baik hingga si calon pembunuhpun membatalkan rencana pembunuhan tersebut juga tak pantas masuk surga ? Apakah Mahatma Gandi yang secara lembut, sabar dan selalu menggunakan jalan damai untuk membela kemerdekaan rakyat India juga harus masuk neraka ? Bagaimana pula dengan sebagian dari milyaran umat manusia non Islam yang baik hati, apakah mereka harus masuk neraka dibanding sebagian dari milyaran umat Islam tapi buruk perilakunya ?
Apakah Akhlak Menentukan Seseorang Masuk Surga atau Tidak ?

Ada satu jawaban yang singkat, jelas dan tegas untuk pertanyaan tersebut yaitu, “kalau memang akhlak dijadikan patokan oleh Tuhan untuk menentukan pantas tidaknya seseorang masuk surga, maka agama tidak diperlukan lagi di muka bumi ini”

Kalau memang akhlak kriteria utama menentukan masuk surga atau tidaknya seseorang, maka untuk apa lagi agama, karena tanpa agama saja orang bisa berbuat baik. Di negeri atheis seperti di Rusia, China, atau di negeri sekuler seperti Eropa dan Amerika, ditemukan banyak orang yang tak beragama tapi memiliki akhlak yang luar biasa baiknya. Tidak usah jauh-jauh, pasti kita sering menemukan diantara teman atau tetangga kita akhlaknya sangat baik, ia mengaku punya agama tapi tak pernah sholat atau ke gereja, tapi nyatanya akhlaknya lebih baik dari umat Islam yang rajin beribadah.

Sifat baik adalah fitrah yang diberikan Allah sejak kita didalam kandungan. Fitrah (sifat-sifat baik) adalah kecenderungan manusia untuk berbuat kebaikan, seperti halnya binatang buas diberi Allah kecenderungan untuk bersifat buas, mereka akan tetap buas walaupun manusia berusaha menjinakkannya. Hawa nafsu dan pilihan manusia sendiri yang membuat seorang manusia menjadi jahat dan berperilaku buruk.
Dalam sebuah hadits qudsi Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (lurus) semuanya. Dan sesungguhnya mereka didatangi oleh setan yang menyebabkan mereka tersesat dari agama mereka” (HR Muslim).

Allah menganugerahi manusia kesempatan untuk memilih yang baik atau yang buruk sesuai firman Allah : “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (QS, Al-Balad 90 : 10). “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS, Al-Insaan 76 : 3).

Kemudian setan berusaha mengaburkan jalan yang benar sehingga jalan yang baik oleh manusia dikira sesat, dan jalan yang sesat dikira benar. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surat Al Baqarah 2 : 216) : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Namun tujuan tulisan ini sama sekali bukan untuk menyatakan bahwa akhlak yang baik tidak penting, atau menjadi muslim yang berperilaku buruk lebih baik daripada non-Islam yang baik hati. Tujuan tulian ini agar kita menyadari bahwa Tuhan tidak menuntut dari manusia sekedar akhlak yang baik, tapi juga ada hal lain yang lebih utama dibanding akhlak.

Bahkan Akhlak Seorang Muslim Yang Baik Sekalipun Tidak Cukup Untuk Membuatnya Masuk Surga.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu itu ?” Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya”. Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua?” Nabi SAW sangat terharu mendengarnya, sambil memeluk anak muda itu ia berkata : “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan oleh pengorbanan dan kebaikanmu”. 

Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita terhadap anaknya. Kita merasa sudah cukup, tapi dalam perhitungan Allah nilai jasa kedua orang tua pada anaknya jauh lebih besar nilainya dari yang dibayangkan manusia. Pasti ada sesuatu perbuatan lain yang harus kita lakukan untuk memperbanyak balas budi kita pada kedua orang tua kita. Diantaranya dengan cara menjadi anak yang sholeh dan selalu mendoakan kedua orangtua kita.

Untuk membalas budi kedua orang tua saja kita tidak akan pernah sanggup, apalagi membalas kebaikan Tuhan yang mengkaruniakan kita fitrah kasih sayang pada kedua orang tua kita, yang mengkaruniakan kita mata yang mampu melihat, telinga yang mampu mendengar, lidah yang mampu merasakan kelezatan makanan, yang telah mengkaruniakan kita udara secara gratis.

Ada perspektif yang sama antara hadits tersebut barusan dengan hadits berikut ini.. Rasulullah SAW pernah berkata, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh sayapun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?” . Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”. Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah.. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah. Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.

Apa makna dari kedua hadits tersebut diatas ? Yaitu bahwa perbuatan baik (akhlak) dan ibadah kita ternyata tidak mampu untuk mendapatkan tiket ke surga. Hanya karena rahmat-Nya lah kita bisa ke surga. Akhlak dan amal ibadah juga tidak cukup menjamin kita terbebas dari api neraka, hanya ampunan-Nya lah yang bisa membuat kita terbebas dari api neraka. Karena itu kita diminta banyak memohon rahmat dan ampunan Allah.
Pertanyaan berikutnya (dikaitkan dengan judul tulisan ini) adalah apa syaratnya agar doa kita untuk memohon rahmat dan memohon ampunan Allah bisa diterima ?

Tidak semua orang diberi rahmat surga, dan tidak semua orang diberi ampunan dari ancaman neraka. Karena itu Allah menentukan syarat utamanya adalah beriman kepada-Nya dan rasul-Nya (melalui syahadat). Ia harus memiliki aqidah yang benar, memahami siapa Tuhan yang disembahnya dengan benar, apa yang dimaui-Nya, bagaimana cara mencintai-Nya. Inilah syarat utama agar permohonan rahmat dan ampunan kita bisa diterima.
Apakah Benar Anggapan Bahwa Sifat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang Akan Membuat Allah Tidak Mungkin (Tega) Menghukum Orang Yang Baik Hati ?

Di akhirat kelak orang yang tidak beriman kepada Allah akan membawa amal kebaikannya ke hadapan Allah, tapi kemudian Allah tidak menerimanya, seperti tersebut dalam Al Qur’an surat Al Furqan ayat 23, “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”.

Ibarat seorang pembantu yang bekerja keras pada majikannya, setiap hari ia bangun pagi membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyapu halaman, menjaga keselamatan anak majikan selama majikan bekerja diluar. Namun sang pembantu yang rajin ini ternyata tidak sopan dalam kata dan perilaku, Sang pembantu tidak mau berusaha memperbaiki sikapnya ini pada atasannya, karena ia mempunyai pendapat sendiri tak mungkin majikan akan memecatnya karena ia sudah bekerja sangat keras dan merawat anak-anak majikannya dengan baik. Ia tidak juga berusaha mencari tahu apa yang diinginkan sang majikan. Padahal jelas sang majikan sudah menulis tatatertib dan uraian kerja pembantu rumah tangga, diantaranya disebutkan bahwa kesopanan adalah syarat terpenting bekerja di rumah majikan tersebut. 

Bahkan terkadang ia sombong dan keras hati serta menyimpulkan sendiri bahwa sebagai orang yang berintelektual tinggi seharusnya majikannya bisa menerima kekurangan sang pembantu. Iapun kaget ketika di akhir bulan, sang majikan memecatnya dengan alasan tidak sopan. Ia protes tapi majikannya punya hak.

Analogi sederhana ini, menyiratkan bahwa agar doa, ampunan, amal dan ibadah kita bisa diterima Allah hendaknya kita mengenal Allah secara baik, melalui perenungan dan makrifatullah. Kitapun sebagai hamba Allah perlu mencari tahu apa sebenarnya syarat utama yang diinginkan Allah agar segala amal ibadah dan akhlak baik kita diterima Allah. Tidak susah mengenal Allah karena karya-Nya ada disekeliling kita, yaitu alam semesta ini, bahkan Ia telah memperkenalkan diri-Nya pada manusia melalui kitab-kitab suci dan ajaran nabi-Nya. Dengan mengenal allah secara baik kita akan tahu bahwa Allah sangatlah penyayang, demikian sabar dengan kelemahan manusia, terlalu banyak kesalahan kita yang dimaafkan-Nya, bahkan kita akan tahu bahwa terlalu berlebihan kalau keimanan, amal ibadah dan kebaikan kita dibalas dengan surga yang luar biasa nikmatnya. Dengan hati yang bersih dan ilmu yang cukup juga akan memudahkan kita memahami mengapa Allah mengancam orang-orang tidak beriman dan yang buruk akhlaknya dengan neraka.

Memahami Allah dengan menggunakan kemampuan akal manusia adalah sia-sia, karena hakikat sifat-sifat Allah tidak dicerna oleh akal manusia, tapi oleh hati manusia. Hati manusia akan membantu kita memahami Allah, karena didalam hati bersemayam fitrah manusia yang salah satunya memiliki sifat-sifat cinta kepada Allah. Hatipun perlu dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran (sifat sombong, dengki, kikir, dsbnya) agar fitrah manusia bisa diaktifkan untuk memahami sifat-sifat Allah dengan baik.

Tanpa Mengenal Sifat Allah Dengan Baik Maka Sia-sialah Akhlak Baik, Amal dan Ibadah Kita Melalui pengenalan yang baik terhadap Allah melalui cara-cara yang diatur dalam Qur’an dan hadits, akan kita temukan bahwa Allah mensyaratkan aqidah Islam yang benar sebelum segala amal ibadahnya diterima.
Aqidah adalah hal yang pokok yang membedakan Islam dengan agama lainnya. Aqidah adalah fondasi bangunan seorang umat Muslim, sedang ibadah (syariah) adalah dinding bangunan seorang Muslim, lalu akhlak adalah atapnya. Tanpa fondasi maka ia pun tidak bisa mendirikan bangunan diri seorang Muslim, tanpa aqidah yang benar dan lurus iapun tidak pantas disebut seorang Muslim. 

Tanpa ibadah yang sesuai syariah Islam, iapun belum sempurna untuk dikatakan sebagai sebuah bangunan yang bernama Muslim. Demikian pula, tanpa Atap yang bernama akhlak, bangunan yang bernama Muslim ini belum utuh dan akan mudah rusak oleh hujan dan panas. Muslim yang baik wajib memiliki ketiga syarat ini (aqidah, ibadah dan akhlak) secara lengkap, tidak kurang satupun, dan harus sempurna. Bila aqidahnya salah, maka kekal lah ia di neraka, bila ibadah dan akhlak buruk maka ia ‘mungkin’ masih berpeluang masuk surga setelah di’cuci’ dulu di neraka. Semoga kita tidak termasuk sebagai orang yang di’cuci’ dulu, apalagi kekal, di neraka. Mumpung kita masih hidup di dunia ini, semoga kita diberi ilmu oleh Allah SWT mengenai kedahsyatan akhirat dan neraka, supaya kita tidak menggampangkan diri untuk menganggap bahwa di’cuci’ di neraka adalah bukan masalah besar. Tidak untuk sedetikpun ! Naudzu billah min dzalik.

Aqidah adalah apa yang diyakini seseorang, bebas dari keraguan. Aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya. Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu. Aqidah Islam merupakan syarat pokok menjadi seorang mukmin, dan merupakan syarat sahnya semua amal kita. Untuk memperoleh aqidah yang lurus kita perlu mempelajari dan memahami sifat-sifat Allah dan apa-apa yang disukai dan dibenci Allah. Tanpa aqidah yang lurus maka amal ibadah kita tidak diterima-Nya. Salah satu hal yang paling dibenci Allah SWT adalah syirik, yaitu mensejajarkan diri-Nya dengan makhluk atau benda ciptaan-Nya. Allah berfirman, “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang yang merugi” (QS, Az-Zumar: 65).

Aqidah adalah tauqifiyah, artinya tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil, dan tidak ada medan ijtihad atau berpendapat didalamnya. Sumbernya hanya al-Qur’an dan as-Sunnah, sebab tidak ada yang lebih mengetahui tentang sifat-sifat Allah selain Allah sendiri. Aqidah Islamiyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah SWT dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan ta’at kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-Malaikat-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Kitab-Kitab-Nya, hari akhir, taqdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang sudah shahih tentang Prinsip-Prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih.

Begitu pentingnya aqidah dalam Islam, sehingga pelurusan aqidah adalah dakwah yang pertama-tama dilakukan para rasul Allah, setelah itu baru mereka mengajarkan perintah agama (syariat) yang lain. Didalam Al Qur’an, surat Al-A’raf ayat 59, 65, 73 dan 85, tertulis beberapa kali ajakan para nabi, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan selain-Nya”. Dengan demikian ilmu Tauhid sebagai ilmu yang menjelaskan aqidah yang lurus, merupakan ilmu pokok yang harus dipahami sebaik mungkin oleh setiap umat Islam yang ingin memperdalam ilmu agamanya. Tanpa aqidah yang benar seseorang akan terbenam dalam keraguan dan berbagai prasangka, yang lama kelamaan akan menutup pandangannya dan menjauhkannya dari jalan hidup kebahagiaan. Tanpa aqidah yang lurus seseorang akan mudah dipengaruhi dan dibuat ragu oleh berbagai informasi yang menyesatkan keimanan kita.
Wallahu a’lam bish shawab.

Berbagai Jenis Nafsu Insani



NAFSU
Alangkah susahnya mendidik nafsuku
yang tidak melihat kebenaran-Mu
ya Allah Tuhanku, bimbinglah hamba-Mu
di dalam mendidik jiwaku ini...

Nafsu insani yang tidak terkawal, adalah sebagai penghalang seseorang untuk mencapai ketenangan dalam menghadap Allah swt. Hidayah Allah tidak akan masuk ke dalam sanubarinya, seandainya ia belum mampu mengendalikan hawa nafsunya. Pada asasnya, manusia dibagi kepada dua golongan, yaitu golongan yang dikalahkan nafsunya sehingga tingkah lakunya dikendalikan nafsu dan golongan yang mampu mengendalikan nafsunya, sehingga nafsu itu tunduk dengan perintahnya. Para shalihin ada yang berkata: “Akhir dari perjalanan hidup seseorang yang menuju jalan makrifat yaitu jika ia dapat membuktikan bahwa dirinya telah mampu mengendalikan nafsu-nafsunya. Siapapun yang berhasil mengendalikannya, maka beruntunglah ia, sebaliknya bagi mereka yang dikalahkan nafsu, maka rugilah ia. Firman Allah swt menjelaskan sebagai berikut:


“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutmakan kehidupan dunia, maka sesunggunya nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya”.
(QS. An-Naazi’at : 37-41)

  1. Nafsu Muthmainnah
Nafsu Muthmainnah yaitu nafsu tenang bersama Allah, tenteram ketika mengingatnya, selalu merindukan Allah dan senantiasa dekat dengan-Nya. Firman Allah swt menjelaskan sebagai berikut:


“Hai jiwa yang tenang. Maka masuklah ke dalam jamaah yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam surga-Ku”.
(QS. Al-Fijr : 27-30)


Ibnu Abbas ra berkata: “Muthmainnah artinya yang membenarkan. Qatadah berpendapat muthmainnah yaitu hanyalah orang-orang yang beriman, yang jiwanya tenang terhadap apa yang dijanjikan Allah”. Orang yang berjiwa tenang ini akan nampak pada akhlaknya, bersikap tenang,sabar dan sanggup menerima setiap cobaan dari Allah swt. 


Jiwa yang muthmainnah yaitu jiwa yang berhijrah dari segala sesuatu yang dibenci auatu yang dilarang oleh Allah swt menuju kepada perbuatan yang diridhai-Nya. Umpamanya dari sikap ragu-ragu kepada memperoleh keyakinan. Dari bodoh kepada berilmu pengetahuan, dari lalai hingga ingat kepada Allah. Begitulah seterusnya dari keburukan menuju kepada yang lebih baik dan mendapat bimbingan Allah.


Pokok ari semuanya itu adalah kesadaran jiwa yang tinggi, serta peka terhadap goncangan jiwa dan perasaan. Sehingga terhindar dari segala bentuk dosa maksiat yang pernah dikerjakan. Setelah melihat kesadarannya itu barulah tahu bahwa hidup ini tidak lama dan akan berakhir dengan kematian. Akhirnya akan bertemu yang Maha Agung. 


Oleh sebab itu, setiap muslimin hendaknya secepat mungkin untuk memanfaatkan sisia-sisa umur yang pendek ini untuk mengabdi hanya keada Ilahi. Menghidupkan kembali hati yang telah mati, ataupun memberi penawar bagi jiwa yang telah sakit, agar kehidupan kita bahagia di akhirat kelak.

  1. Nafsu Lawwamah
Nafsu Lawwamah yaitu nafsu yang tidak pernah stabil atau satu keadaan. Ia selalu berubah, baik dalam bentuk pendirian ataupun tingkah laku. Ia diantara ingat dan lalai, antara ridha dan marah, antara cinta dan benci dan lain-lain. 


Sebagian orang berpendapat bahwa nafsu Lawwamah adalah nafsu prang yang beriman. Ada juga yang mengatakan Lawwamah yaitu mencela diri sendiri kelak pada hari kiamat, di mana setiap orang akan berbuat serupa. Jika ia pernah membuat kesalahan, maka ia mencela kebodohan sikapnya itu, dan jika berbuat baik maka ia juga mencelah karena sedikitpnya kebaikan yang ia lakukan.


Imam Ibnu Qayyin berkata: “Semua pendapat di atas tentang nafsu Lawwamah itu adalah benar”. Kemudian Lawwamah dibedakan lagi kepada dua jenis, Lawwamah yang tercela dan Lawwamah yang terpuji. Lawwamah yang tercela yaitu nafsu yang bodoh dan zalim, semuanya itu dicela oleh Allah swt. Lawwamah yang terpuji yaitu nafsu yang senantiasa berfungsi sebagai peneliti atas setiap tindakan seseorang. Apakah telah mengabdikan diri kepada Allah, beriman dan beramal saleh, serta segala kebaikan yang diperintah-Nya.

  1. Nafsu Ammarah
Nafsu Ammarah adalah nafsu yang tercela, sebab ia selalu mengajak kepada kezaliman. Tidak seorangpun yang terlepas dari nafsu ini, kecuali oarng yang memperoleh pertolongan Allah swt. Seperti kisah istri Al- Azizi penguasa Mesir. Firman Allah menjelaskan :


”Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
(QS. Yusuf : 53)


Firman Allah swt menjelaskan sebagai berikut :


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti angkah-langkah seteanm maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbauatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih dari perbuatan-perbuatan keji yangmeungkar itu selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
(QS. An-Nuur : 21)


Sebenarnya nafsu ini hanya satu, tetapi ia dapat bersiat ammarah, bersifat lawwamah dan terakhir dapat meningkat kepada muthmainnah. Muthmainnah inilah merupakan puncak kesempurnaan dan kebaikan nafsu insani. Karena nafsu muthmainnah selalu berteman dan berada di sisi Malaikat. Senantiasa berusaha untuk mengabdi kepada Allah swt. 


Sedangkan nafsu ammarah selalu berdampingan dengan setan. Menggoda dan mempengaruhi manusia dengan janji-janji palsu, mengajar manusia mengerjakan kebatilan dan kemaksiatan. Nafsu ammarah merupakan nafsu yang menjadi penghalang bagi nafsu muthmainnah untuk mencapai tingkat kesempurnaan. Begitulah seterusnya, bahwa dalam kehidupan kita ada dua nafsu yang selalu berlawanan.

Sumber :
Drs. Muhammad Isa Selamat, MA. Penawar Jiwa dan Pikiran. Kalam Mulia: Jakarta. 2005.

Selasa, 24 Juni 2014

Keimanan dalam agama Islam



Iman secara bahasa berarti tashdiq (membenarkan). Sedangkan secara istilah syar’i, iman adalah "Keyakinan dalam hati, Perkataan di lisan, amalan dengan anggota badan, bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan maksiat". Para ulama salaf menjadikan amal termasuk unsur keimanan. Oleh sebab itu iman bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana amal juga bertambah dan berkurang". Ini adalah definisi menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Al Auza’i, Ishaq bin Rahawaih, madzhab Zhahiriyah dan segenap ulama selainnya.[1]
Dengan demikian definisi iman memiliki 5 karakter: keyakinan hati, perkataan lisan, dan amal perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang.
“Agar bertambah keimanan mereka di atas keimanan mereka yang sudah ada.”
—QS. Al Fath [48] : 4
Imam Syafi’i berkata, “Iman itu meliputi perkataan dan perbuatan. Dia bisa bertambah dan bisa berkurang. Bertambah dengan sebab ketaatan dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.” Imam Ahmad berkata, “Iman bisa bertambah dan bisa berkurang. Ia bertambah dengan melakukan amal, dan ia berkurang dengan sebab meninggalkan amal.”[2] Imam Bukhari mengatakan, “Aku telah bertemu dengan lebih dari seribu orang ulama dari berbagai penjuru negeri, aku tidak pernah melihat mereka berselisih bahwasanya iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang.”[3]

Keimanan sering disalahpahami dengan 'percaya', keimanan dalam Islam diawali dengan usaha-usaha memahami kejadian dan kondisi alam sehingga timbul dari sana pengetahuan akan adanya Yang Mengatur alam semesta ini, dari pengetahuan tersebut kemudian akal akan berusaha memahami esensi dari pengetahuan yang didapatkan. Keimanan dalam ajaran Islam tidak sama dengan dogma atau persangkaan tapi harus melalui ilmu dan pemahaman.
Implementasi dari sebuah keimanan seseorang adalah ia mampu berakhlak terpuji. Allah sangat menyukai hambanya yang mempunyai akhlak terpuji. Akhlak terpuji dalam islam disebut sebagai akhlak mahmudah.Beberapa contoh akhlak terpuji antara lain adalah bersikap jujur, bertanggung jawab, amanah, baik hati, tawadhu, istiqomah dll. Sebagai umat islam kita mempunyai suri tauladan yang perlu untuk dicontoh atau diikuti yaitu nabi Muhammad SAW. Ia adalah sebaik-baik manusia yang berakhlak sempurna. Ketika Aisyah ditanya bagaimana akhlak rosul, maka ia menjawab bahwa akhlak rosul adalah Al-quran. Artinya rosul merupakan manusia yang menggambarkan akhlak seperti yang tertera di dalam Al-quran
[10:36] Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
Adapun sikap 'percaya' didapatkan setelah memahami apa yang disampaikan oleh mu'min mubaligh serta visi konsep kehidupan yang dibawakan. Percaya dalam Qur'an selalu dalam konteks sesuatu yang ghaib, atau yang belum terrealisasi, ini artinya sifat orang yang beriman dalam tingkat paling rendah adalah mempercayai perjuangan para pembawa risalah dalam merealisasikan kondisi ideal bagi umat manusia yang dalam Qur'an disebut dengan 'surga', serta meninggalkan kondisi buruk yang diamsalkan dengan 'neraka'. Dalam tingkat selanjutnya orang yang beriman ikut serta dalam misi penegakkan Din Islam.
Adapun sebutan orang yang beriman adalah Mu'min
Tahap dan Tingkatan Iman serta Keyakinan
Tahap-tahap keimanan dalam Islam adalah:
  • Dibenarkan di dalam qalbu (keyakinan mendalam akan Kebenaran yang disampaikan)
  • Diikrarkan dengan lisan (menyebarkan Kebenaran)
  • Diamalkan (merealisasikan iman dengan mengikuti contoh Rasul)
Tingkatan Keyakinan akan Kebenaran (Yaqin) adalah:
  • Ilmul Yaqin (yaqin setelah menyelidikinya berdasarkan ilmu) contoh ---- seperti keyakinan orang amerika yang masuk islam setelah membuktikan AL QUR'AN dengan ILMU PENGETAHUAN
  • 'Ainul Yaqin (yaqin setelah melihat kebenarannya hasilnya baik berupa mu'zizat , karomah dll ) contoh ----- keyakinan Bani israil yaqin setelah melihat mu'zizat dari nabinya
  • Haqqul Yaqin (yaqin yang sebenar-benarnya meskipun belum dibuktikan dengan ilmu dan belum melihat kebenarannya) contoh ----- yakinnya para sahabat RA kepada nabi MUHAMMAD.SAW pada peristiwa ISRA' MIRAJ meskipun tidak masuk akal(berdasarkan ilmu) dan tidak seorang sahabat pun melihat kejadian itu , namun mereka tetap meyakini peristiwa itu .

Senin, 23 Juni 2014

Jangan Remehkan Kebaikan Kecil

"Sesungguhnya Allah tidak menzalimi sesorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebaikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar."(An-Nisaa' [4]:40)

Buku ini terbentuk dari ribuan kalimat. Setiap kalimat terbentuk dari beberapa kata, dan setiap kata terbentuk dari kumpulan huruf-huruf sehingga membentuk makna. Segala sesuatu yang kita anggap benda besar adalah susunan dari puluhan, ratusan, jutaan, miliaran, atau triliunan benda-benda kecil.

Dalam hal ibadah, terdapat banyak amalan-amalan kecil dan ringan serta mudah dikerjakan, tetapi ia memiliki pahala yang sangat besar di sisi Allah swt., seperti membaca surah al-Ikhlash yang merupakan salah satu surah terpendek di dalam Al-Qur'an. Waktu yang dibutuhkan untuk sekali baca-nya tidak lebih dari sepuluh detik. Akan tetapi, Rasulullah saw. mengatakan bahwa pahala sekali membaca surah al-Ikhlash sama dengan membaca sepertiga Al-Qur'an.

Contoh lain adalah, mengucap salam "Assalaamu 'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh." Jika kita ingin melakukan sebanyak tiga puluh kebaikan, tentu hal itu akan meng-habiskan cukup banyak waktu kita. Akan tetapi, hanya dengan mengucapkan salam itu secara sempurna kepada sesama muslim, Anda telah memperoleh pahala yang sebanding dengan pahala tiga puluh kebaikan.

Masih banyak lagi jenis kebaikan kecil yang mengandung manfaat dan pahala yang sangat besar bagi orang yang me-lakukannya, dan Allah tidak akan pernah menzalimi seorang hamba yang melakukan kebaikan meski sekecil biji sawi sekalipun.



Balasan dari setiap kebaikan yang dilakukan ada yang disegerakan di dunia dan ada yang ditangguhkan. Semua berlaku atas kehendak Allah swt.

Banyak sahabat yang memperoleh balasan kebaikan mereka di dunia dan di akhirat. Contohnya adalah Abdurrahman bin 'Auf. Setelah dia hijrah bersama Rasulullah saw. ke Madinah, dia tidak memiliki dan tidak membawa apa-apa sebagai bekal hidup. Akan tetapi, keimanan yang mendalam kepada Allah dan kecintaan yang tiada tara kepada Rasulullah saw. telah menganugerahinya kecerdasan finansial yang belum ada tandingannya, sehingga dia menjadi konglomerat yang paling banyak bersedekah dan berjihad di jalan Allah. Hal yang lebih mengagumkan lagi adalah dia menjadi salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga oleh Allah swt.

Allah berkehendak membalas kebaikan setiap hamba-Nya yang melakukan kebaikan, besar maupun kecil, dengan ganjaran pahala di sisi-Nya dan kebahagiaan di dunia.

Ada sebuah kisah yang sangat menggugah saya ketika menyusun bab ini. Yaitu kisah dari pengalaman saya ketika mengurus izin pendirian Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) al-Jauhar di Bengkalis, Riau.

Ketika akan pulang, saya memesan tiket kapal lebih awal agar memperoleh tempat duduk dan bisa beristirahat dengan cukup dalam pelayaran ke Dumai. Saya memperlihatkan tiket kepada petugas saat memasuki kapal, kemudian dia meng-antarkan saya ke nomor kursi yang tertera pada tiket itu. Akan tetapi, kursi dengan nomor yang dimaksud telah di-tempati oleh seorang nenek tua. Petugas pun meminta tiketnya, ternyata nenek itu belum mempunyai tiket.

Saya mengamati keadaan di sekeliling, tapi tidak ada lagi kursi kosong. Semuanya sudah ditempati. Perasaan iba ter-hadap nenek itu muncul dalam hati sehingga saya biarkan dia menempati tempat duduk saya. Saya memilih untuk berdiri di antara barisan kursi penumpang lain, padahal per¬jalanan dari Bengkalis ke Dumai cukup lama dan melelahkan. Tidak berapa lama saya berdiri, petugas yang tadi mengantar-kan saya datang dan memberi tahu nenek itu bahwa di salah satu sudut kapal itu masih ada satu kursi yang kosong. Dia kemudian mempersilakan saya menempati kursi itu.

Di sebelah kanan saya, duduk seorang bapak yang me-makai baju putih dan berkopiah. Dia menyapa saya dan ber-tanya, "Mau ke Dumai ya?" Saya mengiyakannya. Dia menanya-kan nama, alamat, dan keperluan saya pergi ke Bengkalis. Dia juga menanyakan status pernikahan saya. Saya men-jawab semua pertanyaannya secara jujur. Tidak lama ke¬mudian kami menjadi akrab dan saling bertukar cerita.

Dia bercerita, "Waktu aku seusia kamu, aku sudah ingin menikah, dan aku sudah menemukan gadis yang menarik hatiku. Tetapi, aku belum tahu banyak tentang keluarga-nya, dan tidak ada satu pun keluarganya yang kukenal."

Dia berhenti sejenak sambil menghela napas panjang. Saya mengamati raut wajahnya yang agak tersenyum. Dia lalu melanjutkan ceritanya, "Ketika aku melihat sikap kamu terhadap nenek tadi, aku jadi ingat kenangan masa laluku."

Saya sangat penasaran mendengar kata-kata itu, saya mendesaknya untuk segera menceritakan kenangannya.

"Suatu hari, aku pergi ke Dumai. Dalam perjalanan pulang, aku mendapatkan tempat duduk di dalam bus yang aku naiki. Ketika sampai di daerah Simpang Bangko,ada seorang nenek yang baru naik. Sementara semua kursi telah terisi.

Akhirnya, nenek itu berdiri dan tidak ada seorang pe-numpang pun yang mengasihi dan mempersilakannya duduk. Aku jadi tidak tega melihatnya. Aku mempersilakan¬nya duduk di kursiku. Dia sangat berterima kasih, lalu menanyakan nama dan daerah asalku, di mana aku turun, dan sebagainya. Dia memberi tahuku bahwa dia akan turun di daerah Bangko Sempurna.

Dalam pikiranku, aku berharap semoga ada penumpang yang turun sebelum daerah itu, sehingga aku bisa men-dapatkan tempat duduk. Akan tetapi, justru lebih banyak penumpang yang naik daripada yang turun.

Setelah dua jam perjalanan, akhirnya nenek itu sampai ke tempat tujuannya di daerah Bangko Sempurna. Sementara aku sudah kelelahan karena berdiri selama dua jam di dalam bus yang penuh sesak itu. Nenek itu menyentuh pundakku sambil mengucapkan terima kasih dan mendoakan semoga aku selamat.

Aku pun duduk kembali dan melupakan sama sekali peristiwa itu. Aku menganggapnya seolah tidak pernah terjadi. Aku sama sekali tidak ingat lagi dengan kejadian itu.

Sekitar empat bulan kemudian, aku dan calon istriku telah sepakat untuk menikah. Dia ingin agar aku bertandang ke rumahnya. Dia ingin memperkenalkanku dengan ke-luarganya. Dia menceritakan kepadaku bahwa di antara ke-luarganya yang tidak menyetujui hubunganku dengan dia adalah ayahnya. Mendengar itu, aku jadi kurang yakin, sehingga pada awalnya aku ingin 'mundur' saja, tetapi dia mendesak agar aku menghadap ayahnya langsung dan ber-terus terang kepadanya.

Dengan modal 'Bismillah' dan shalat sunnah dua rakaat, aku datang ke rumahnya membawa perasaanku yang tidak menentu.

Ibunya menyambutku ramah, tetapi tidak dengan ayah¬nya. Meski demikian, aku berusaha tersenyum ramah dan mencium tangan keduanya. Aku mengamati wajah ayahnya yang acuh terhadap ungkapanku yang jujur ingin menikahi putrinya. Dia bersikeras dengan alasan yang dibuat-buat. Aku sampai mengulang berkali-kali mengutarakan keinginan-ku, tetapi tetap tidak mampu mengubah pendiriannya. Aku pasrah dan sedikit merasa berputus asa.

Di antara kebisuanku di depan keluarganya, tiba-tiba muncul seorang nenek. Aku merasa seolah pernah bertemu nenek itu. Aku berpikir dan mencoba mengingat-ingat. Nenek itu memandangiku tajam. Dia seolah sedang berpikir juga dan aku segera menyalaminya. Dia lalu menatap wajah putra-nya (ayah gadis itu) dan menanyakan pendapatnya tentang aku. Ayah gadis itu mengambil tangan ibunya dan membawa-nya masuk ke sebuah ruangan di dalam rumah. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Pikiranku masih mencoba mengingat di mana aku pernah bertemu dengan nenek itu. Namun, aku tetap tidak mampu mengingatnya.

Setelah cukup lama duduk menunggu. Semua anggota keluarga gadis itu tiba-tiba berhamburan ke dalam ruangan tempat ayah dan nenek gadis itu masuk. Mereka semua seperti dipanggil untuk memusyawarahkan urusanku. Aku duduk seorang diri di ruang tamu, sambil mengharap jawaban yang membahagiakan. Perasaanku tidak menentu. Dalam pikiranku aku mempersiapkan diri untuk diterima atau di-tolak.

Nenek itu kemudian keluar sambil diiringi oleh semua anggota keluarganya, termasuk ayahnya. Dia menatapku dan aku masih berusaha mengingat di mana kami pernah bertemu. Dia lalu bertanya kepadaku, 'Apakah kamu kenal aku?"

Aku menjawab, "Saya tidak kenal/tapi sepertinya saya pernah bertemu nenek sebelum ini. Tetapi, saya tidak ingat di mana?" Jawabku sambil tetap berusaha mengingat tempat kami pernah bertemu.

"Kalau begitu, keinginanmu untuk menjadi salah satu anggota keluarga kami..., diterima!"

Semua anggota keluarga itu pun tersenyum. Suara riuh mendadak memenuhi isi rumah. Beberapa dari mereka sempat bertepuk tangan. Aku melihat calon istriku itu tersipu-sipu sambil memalingkan wajahnya ke dinding rumah dan tersenyum.

Di antara sorak riang dan kegembiraan mereka, aku masih tetap berusaha mengingat di mana aku pernah bertemu nenek itu. Akhirnya, nenek itu pun menceritakan kepadaku di mana dia pernah bertemu denganku."

Bapak itu tersenyum dan mengakhiri ceritanya dengan berucap, "Alhamdulillah, anakku sekarang sudah empat orang."

Kita terkadang sering tidak memperhatikan kebaikan yang nilainya terasa kecil, dan kita tidak peduli terhadap-nya. Seperti dalam kendaraan umum, ketika ada orang-orang yang sudah tua, wanita hamil, orang cacat dan sebagainya, dan mereka tidak memperoleh tempat duduk, sementara kita masih kuat dan sehat. Kita lebih memilih membiarkan mereka berdiri, meski kondisi mereka lemah.

Mendahulukan mereka adalah lebih baik dan merupakan akhlak mulia. Tanpa mengharapkan balasan dan tidak perlu mengharapkan imbalan apa pun dari mereka, karena imbalan dan balasan yang paling baik hanya ada di sisi Allah swt. Hanya kepada-Nyalah kita mengharapkan balasan.

Pahala dan kebahagiaan akhirat tidak hanya dari kebaikan-kebaikan besar. Justru kebaikan kecil terkadang memiliki pahala yang jauh lebih besar dari kebaikan yang' kita kira berpahala besar.

Anda tentu pernah mendengar Rasulullah saw. pernah bercerita kepada para sahabatnya kisah tentang seorang pelacur yang masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang hampir mati kehausan. Anda juga tentu mengetahui sabda beliau tentang ganjaran pahala untuk orang yang menyingkirkan duri dari jalan umum. Semua itu merupakan kebaikan kecil di mata manusia dan sangat mudah dikerjakan, tetapi pahalanya sangat besar di sisi Allah swt.

Allah tidak pelit untuk membalas kebaikan kecil yang dilakukan hamba-Nya yang ikhlas. Meski ganjarannya kecil, tidak ada pahala sekecil apa pun di hari Kiamat nanti melainkan ia akan menjadi tempat bergantung harapan setiap hamba untuk mengantarkannya ke surga.

Dalam urusan keduniawian, tidak hanya karakter dan perbuatan baik dalam skala besar saja yang mengantarkan seseorang untuk meraih kebahagiaan. Akan tetapi, kebaikan kecil tidak jarang menjadi titik awal seseorang dalam meng-gapai kebahagiaan dan kesuksesan besar dan luar biasa dalam hidupnya.

Tidak ada seseorang yang terlahir ke dunia langsung sebagai orang dewasa yang memiliki segala sesuatu, tetapi dia mengawali hidup sebagai bayi yang tidak bisa apa-apa, ke-mudian menjadi anak-anak, remaja dan orang dewasa yang hidup bahagia dan sukses. Sama halnya dengan kebaikan, setiap kebaikan besar tentu dimulai dari kebaikan yang paling kecil.

Allah swt. berfirman di dalam Al-Qur'an, "Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik." (ar-Ra'd [13]: 29)


sumber : http://oase-kautsar.blogspot.com/

Bertobatlah

"Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu kedalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar dihadapan dan disebelah kanan mereka, sambil mereka berkata. "Ya Tuhan Kami sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu" (At-Tahrim[66]:8)

Di antara anggota pasukan Sa'ad bin Abi Waqqash yang menaklukkan daerah Persia, terdapat seorang tentara yang gagah perkasa bernama Abu Mahjan. Dia salah seorang anggota pasukan kavaleri berkuda. Akan tetapi, dia mempunyai satu kebiasaan buruk, yaitu menyukai minuman keras.

Sa'ad berpidato di hadapan pasukannya menjelang pertempuran. Dia mewasiatkan kepada mereka untuk meningkat-kan ketakwaan dan berdoa agar Allah menguatkan mereka guna menghadapi pasukan Persia di Qadhisia. Secara tiba-tiba, Abu Mahjan muncul dalam keadaan teler. Sa'ad sangat sedih dengan keadaan itu. Dia langsung memerintahkan agar Abu Mahjan dipenjara terlebih dahulu. Setelah selesai pertempuran, dia akan menjatuhi hukuman cambuk terhadapnya. Sa'ad takut Allah akan menghukum pasukannya karena ada salah satu dari mereka yang meminum minuman keras.

Ketika Abu Mahjan tersadar dari mabuknya, dia bangkit dan mengintip dari jendela penjara. Dia melihat peperangan yang berpihak pada kemenangan pasukan Persia. Abu Mahjan terdiam, dia duduk termenung dan bersedih. Air matanya perlahan mengalir dari kedua matanya.

Bagaimana tidak, dia tidak bisa ikut berperang. Dosa dan perbuatan maksiat yang baru saja dia lakukan menghalanginya memperoleh kehormatan besar itu. Dia merasa telah menipu cita-cita dan tekadnya sendiri untuk menjadi salah satu tentara yang berjasa menaklukkan wilayah Persia. Padahal, dia seorang jagoan tangguh dan pasukan berkuda yang tidak tertandingi.

Dalam kesedihannya yang mendalam itu, dia menggubah syair:
 "Cukup sudah hatiku tersiksa
Melihat tombak menancap di perut kuda
Sedang aku terbelenggu tak berdaya
Aku berdiri terikat baja
Pintu pun tertutup dengan kuatnya
Hingga tak ada yang mendengar keluh di dada
Aku berjanji kepada Tuhan
Tak lagi berbuat satu kesalahan
Kalau sekarang aku dibebaskan"

Begitulah tekad dan hati Abu Mahjan kembali bangkit. Dia berjanji, kalau terbebas dan diizinkan keluar untuk berjihad, dia tidak akan mengotori tubuhnya lagi dengan minuman keras yang diharamkan Allah.

Abu Mahjan benar-benar bertobat. Allah pun menerima tobatnya dan berkenan mengutus istri Sa'ad bin Abu Waqqash melewati kamar penjaranya. Setelah mendengar syair yang begitu menusuk hati itu, Abu Mahjan meminta untuk di bebaskan. Dia berjanji akan kembali ke dalam sel itu persis setelah perang terhenti saat matahari tenggelam.

Istri Sa'ad menyetujuinya. Abu Mahjan pun segera dibebaskan. Tidak lama kemudian, dia sudah menunggangi; kudanya Sa'ad bin Abu Waqqash yang bernama Balqa. Setelah mencorang-coreng wajahnya agar tidak dikenali, dia pun melesat seperti kilat menuju arena pertempuran.

Ketika tentara muslim melihatnya mengacak-acak barisan pasukan musuh dan membabat ke sana-kemari tanpa henti, mereka bergumam penuh kagum, "Demi Allah, ada malaikat yang berperang di barisan kita."

Sa'ad bin Abu Waqqash yang memantau jalannya pertempuran dari atas benteng juga terheran-heran dan menanya-kan, "Siapa gerangan tentara yang mukanya dicoreng-moreng itu?" Tetapi tidak ada seorang pun yang bisa menjawab.

Sa'ad lalu berseru, "Subhanallah! Kalau dilihat dari lari kudanya, itu lari kudaku, Balqa. Kalau dilihat dari cara menyerangnya, itu gaya khasnya Abu Mahjan! Demi Allah, kalau Abu Mahjan tidak sedang dipenjara, pasti aku akan mengatakan padanya bahwa tentara gagah perkasa itu adalah dia."

Seperti janjinya kepada istri Sa'ad bin Abi Waqqash, Abu Mahjan segera kembali ke ruang penjara setelah malam mulai gelap. Tidak lama kemudian, Sa'ad juga pulang ke kemahnya. Dia segera diberi tahu oleh sang istri perihal Abu Mahjan.

Untuk itu, Sa'ad segera pergi menemui Abu Mahjan, membebaskan, dan memeluknya. "Demi Allah!" kata Sa'ad kepada Abu Mahjan. "Mulai hari ini, aku tidak akan lagi mencambukmu. Sungguh, aku telah melihat sendiri bagaimana ke-teguhanmu dalam berjihad di jalan Allah. Aku juga menyaksi-kan sendiri bagaimana keberanianmu menantang kematian."

Abu Mahjan balik menjawab, "Aku pun berjanji atas nama Allah, mulai hari ini, tidak akan lagi meminum minuman keras." Keduanya menangis sesenggukan. Sa'ad bin Abi Waqqash menangis karena terharu. Abu Mahjan menangis karena gembira sudah terbebas dari belenggu minuman keras yang membelenggu lehernya selama bertahun-tahun.

Pelajaran apa yang Anda ambil dari kisah Abu Mahjan? Dia adalah seseorang yang mempunyai cita-cita tertinggi, yaitu berjihad. Akan tetapi, dia mempunyai rintangan terberat, yaitu kegemarannya meminum minuman keras. Sementara jihad adalah sarana dakwah untuk mengajak manusia pada ke-taatan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Meski demikian, dia tetap berada dalam kondisi kejiwaan yang kuat untuk berjihad, namun dia tidak kuat mengatasi kendala terberat yang ada pada dirinya. Hingga suatu-keadaan membuatnya tersadar bahwa kebiasaan buruknya telah meng-halanginya dari menggapai cita-citanya yang paling mulia itu.

Kita juga sering mengalami keadaan seperti yang dialami oleh Abu Mahjan. Terkadang kita menginginkan suatu kebahagiaan, ketenteraman dan kesejahteraan, tetapi waktu kita lebih banyak dihabiskan untuk hal-hal yang justru akan menghalangi kita dari mencapai hal-hal baik itu.

Seorang mahasiswa misalnya, dia mempunyai cita-cita ingin meraih IPK tertinggi dan menjadi sarjana terbaik. Dia menyampaikan keinginannya itu kepada kedua orang tuanya. Orang tuanya pun bekerja dan membanting tulang demi membiayai pendidikan anaknya. Akan tetapi, sebelum cita-cita itu tercapai, dia terjebak dalam cara berpikir orang-orang yang menganggap maksiat sebagai hobi dan dosa sebagai seni. Larut dalam pergaulan bebas dan pemakaian obat-obatan terlarang. Semua uang hasil jerih payah orang tuanya dihabiskan untuk berfoya-foya dan membeli narkoba.

Bukankah itu sebuah kedurhakaan dan pengkhianatan terhadap orang tua? Seindah dan sepandai apa pun manusia mengeksploitasi dosa dan maksiat sebagai produk yang bernilai seni tinggi, tidak akan mengubah dosa dan maksiat menjadi keindahan yang bernilai seni tinggi. Maksiat akan tetap menambah dosa, dan maksiat yang bertopengkan seni tetaplah maksiat.

Dosa dan maksiat tidak hanya akan menghalangi seseorang dari rahmat dan ridha Allah, tetapi juga akan meng-halanginya dari mencapai tujuan dan cita-cita yang diinginkannya.

Pergaulan bebas, maksiat yang berkedok seni, dan narkoba . adalah rintangan berat yang harus ditinggalkan bila dia benar-benar ingin menjadi seorang mahasiswa yang sukses dalam studi dan karier.

Di sisi lain, kepada sebagian orang, bila mereka ditanya, "Apakah Anda ingin masuk surga?" Mereka pasti akan menjawab, "Ya." Akan tetapi, secara sadar atau tidak, mereka justru lebih banyak melakukan hal yang sama sekali tidak akan mengantarkan mereka ke surga, bahkan sebaliknya.

Seandainya mereka tetap dalam keadaan demikian, dan usia pun dihabiskan dalam dosa dan maksiat. Maka penyesal-an akan hadir di saat tidak ada lagi kesempatan kedua untuk melakukan kebaikan. Kesempatan itu hanya datang sekali.

Oleh karena itu, selama Anda masih memiliki sisa umur untuk menjalani hidup di muka bumi ini, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri dan bertobat atas dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan.
Allah Maha Menerima Tobat. Meski dosa hamba-Nya memenuhi langit dan bumi, rahmat dan ampunan Allah jauh lebih luas daripada langit dan bumi. Tidak ada kebaikan sekecil apa pun yang dilakukan seorang hamba kecuali Allah akan memberinya dua hal secara bersamaan, yaitu pahala dan ampunan atas dosa-dosanya.

Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah saw. berkisah, "Ada seorang lelaki yang kerjanya meminjamkan uang kepada orang lain, kemudian dia berpesan kepada pegawainya, 'Jika kamu mendapati orang yang berutang sedang dalam kesusahan, ampunilah dia. Jangan dulu ditagih. Semoga Allah mengampuni kita.' Lelaki itu pun meninggal, dan Allah mengampuninya."

Rasulullah saw. juga pernah berpesan kepada Mu'adz bin Jabal, "Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada. Ikutilah kesalahan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskan kesalahan tersebut. Dan, bergaullah bersama ma¬nusia dengan akhlak yang baik."

 "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih." (Huud [11]: 90)

Dosa dan maksiat tidak hanya akan menghalangi sesorang dari rahmat dan ridha Allah, tetapi juga akan menghalanginya dari mencapai tujuan dan cita-cita yang diinginkannya.

sumber : http://oase-kautsar.blogspot.com/

Hiduplah Sederhana

"Sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai" (Luqman[31]:19)

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah saw. pernah bersabda, "Orang yang hidup sederhana, dia tidak akan meminta-minta." Dalam hadis lain yang juga ; diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Darda', Rasulullah saw. juga bersabda, "Tanda kepahaman seseorang dalam ber agama adalah sederhana dalam kehidupannya."

Kesederhanaan dalam hidup mencakup kesederhanaan sikap dan perilaku, kesederhanaan tutur kata, dan keseder¬hanaan pola pikir. Sikap sederhana adalah lawan dari sikap berlebih-lebihan dan menyombongkan diri. Allah swt. ber-firman,

"Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguh-nya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-kan diri..." (Luqman [31]: 18)

Hidup sederhana adalah realisasi dari sikap mensyukuri nikmat Allah swt. Kita patut becermin dari gaya hidup Rasulullah saw. Kehidupan beliau sarat akan hikmah dan kesederhanaan hidup yang menjadi kekuatan moral dalam mengajak manusia ke jalan Allah swt.

Anas pernah berkata, "Aku tidak pernah mengetahui Nabi saw. melihat adonan roti yang lebar lagi tipis hingga saat beliau meninggal dunia. Aku juga tidak melihat beliau menikmati hidangan daging domba sama sekali."

Aisyah juga pernah berkata, "Kami benar-benar pernah melihat tiga kali kemunculan hilal selama dua bulan. Akan tetapi, kami tidak pernah menyalakan tungku api di rumah-rumah Rasulullah saw." Lalu Urwah bertanya kepada Aisyah, "Kalau begitu, apa yang bisa membuat kalian bertahan hidup?" Aisyah menjawab, "Dua hal: korma dan air."

Kesederhanaan hidup seseorang tecermin pada pakaian yang dipakai, makanan yang dimakan, minuman yang di-minum, gerak-gerik dan tingkah lakunya sehari-hari. Orang yang sederhana akan memakai pakaian yang pantas sesuai postur tubuhnya, tidak terlalu besar sehingga kedodoran, juga tidak terlalu sempit sehingga menghambat aliran darahnya. Penampilannya biasa-biasa saja, rapi, sopan dan pakaiannya menutupi aurat.

Dia hanya makan ketika merasa lapar. Makanan dan minum-annya adalah yang halal dan baik. Dia tidak suka berlebih-lebihan dan tidak bersikap tabdzir (boros), karena dia mengerti bahwa mubadzir adalah saudaranya setan.

Tutur katanya lembut dan perilakunya santun. Taat pada orang tua dan sanrun terhadap semua orang. Mencintai keluarga dan menghormati orang yang lebih dewasa dan lebih luas pengetahuannya. Semua kriteria itu bukan dibuat-buat. Akan tetapi, terbentuk dari gerakan hatinya. Itulah cermin perilaku dan penampilan lahiriah dari orang yang hatinya selalu di-selimuti iman kepada Allah swt.

Rasulullah saw. bersabda, " Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk fisik dan penampilanmu. Akan tetapi Dia melihat kepada hatimu," Sambil beliau menunjuk ke dadanya.

Saya pernah menyaksikan salah satu acara infotainment yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional. Pada acara itu ditampilkan seorang siswa kelas V SD yang memiliki keahlian khusus. Anak itu ditanya, "Kalau sudah besar, kamu ingin menjadi apa?" Anak itu langsung men-jawab, "Aku ingin menjadi artis!"

Kira-kira, apakah yang mendorong anak itu memasang cita-cita ingin menjadi artis? Di dalam benaknya, dia tentu memiliki gambaran tertentu tentang dunia artis seperti yang dia ketahui dari siaran televisi yang dia tonton setiap hari.

Arus informasi sangat gencar "menghantam" kita sampai ke kamar tidur. Secara perlahan tapi pasti, ia akan menyeret kita kepada gaya hidup yang sebenarnya hanya cocok untuk kalangan tertentu saja, yaitu para entertainer. Gaya hidup mereka sudah diketahui oleh semua orang dari pusat kota hingga ke pelosok kampung.

Masalahnya adalah, apa jadinya jika anak kampung ber-ambisi ingin menjadi artis? Tidak sedikit dari mereka yang harus kehilangan kehormatan, harga diri dan identitasnya, sebelum ambisi itu tercapai.

Allah swt. mengingatkan kita agar tidak terjebak pada peniruan gaya hidup golongan manusia yang tidak menaati perintah dan hukum-hukum Allah swt.

"Tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda-gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia..." (al-An'aam [6]; 70)

"Janganlah sekali-kali kamu mengarahkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka, dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah hatilah kamu terhadap orang-orang yang beriman." (al-Hijr [15]: 88)

Makna dari "mengarahkan pandanganmu" pada ayat di atas adalah, meniru dan mengikuti gaya hidup mereka. Ayat itu adalah larangan dari Allah agar kita tidak iri hati terhadap gaya hidup orang-orang yang berpaling dari petunjuk dan hidayah Allah. Allah juga melarang kita untuk bersedih hati atas keadaan diri kita, meski kita hidup dalam kesederhana-an dan mereka hidup bergelimang kemewahan dan kekayaan. Masih ada golongan selain mereka yang lebih diridhai dan dicintai oleh Allah, yaitu golongan orang-orang yang patuh dan taat pada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Maka, Allah melanjutkan dengan perintah-Nya "dan berendah hatilah kamu terhadap orang-orang yang beriman."

Itu adalah anjuran dari Allah agar kita bergaul dengan orang-orang beriman dan menghindari pergaulan dengan orang-orang yang berpaling dari-Nya.

Bergaul dengan orang-orang beriman akan membangkit-kan kekuatan diri dan menguatkan keyakinan kita kepada Allah. Sementara bergaul dengan mereka yang berpaling dari jalan Allah, akan menjauhkan kita dari jalan Allah dan akan membuat kita semakin tidak mensyukuri semua nikmat Allah.


Rasulullah saw. bersabda, "Jika engkau melihat bahwasa-nya Allah membukakan pintu-pintu kesenangan duniawi kepada seseorang walaupun ia berbuat maksiat, itu bukan berarti Allah menyukainya. Akan tetapi, Allah mencabut nikmat darinya dengan sekonyong-konyong." Kemudian Rasulullah saw. membaca ayat yang artinya, "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam ber-putus asa." (al-An'aam [6]: 44)

Hudzaifah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. ber¬sabda, "Alangkah bagusnya hemat dalam harta. Alangkah bagus-nya kesederhanaan dalam kemiskinan. Alangkah bagusnya ke-seimbangan dalam beribadah."

Sederhana tidak bisa lepas dari gaya hidup, dan gaya hidup orang-orang yang beriman kepada Allah lebih baik daripada gaya hidup mereka yang tersesat dari jalan Allah.

Ada satu ungkapan yang sangat saya kagumi dan selalu saya pegang teguh dari almarhum Kyai Sahal dan Kyai Zarkasyi (pendiri Pondok Modern Gontor), yaitu, "Sederhana bukan berarti miskin." Beliau mendefinisikan hidup sederhana dengan memiliki sesuatu sesuai kebutuhan. Lebih jauh lagi, Ustadz Hasan Abdullah Sahal menambahkan dengan ungkapan yang saya catat dalam buku harian saya, "Cintailah apa yang kamu miliki, jangan terlalu berambisi untuk memiliki apa yang kamu cintai."

Mencintai dan memiliki adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Jika seorang pemuda mencintai seorang gadis, dia akan berkeinginan untuk memiliki gadis itu. Banyak orang yang ingin memiliki apa pun yang mereka cintai, tetapi sedikit yang bisa mencintai apa yang sudah mereka miliki. Mereka pun semakin jauh dari sifat qana'ah (berpuas diri) dan terus men-cari kepuasan, hingga tanpa sadar usia pun semakin ber-kurang, tenaga terkuras, umur pun habis untuk mencari dan belum sempat untuk bertobat.

Hal demikian adalah akibat dari perilaku yang suka mem-bandingkan penampilan dan harta sendiri dengan penampilan dan harta orang lain. Kita ingin tampil lebih menarik dari orang lain. Kita ingin dianggap lebih kaya oleh orang lain.

Padahal, sudah menjadi hukum alam dan skenario ilahi bahwa setiap manusia memiliki kelebihannya masing-masing. Orang yang iri terhadap kelebihan yang dimiliki oleh orang lain, dia tidak akan pernah bisa menjalani hidup secara se¬derhana. Dia mengingkari hukum alam dan berusaha keluar dari skenario yang telah Allah rancang. Pada akhirnya, mereka sendiri yang akan terperosok dalam jurang kehancuran.

"Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkat-annya dan lebih besar keutamaannya." (al-Israa' [17]: 21)

Sederhana adalah kekuatan dan kebersahajaan. Sejarah belum pernah mencatat ada orang kaya yang jatuh miskin karena dia hidup sederhana. Sejarah hanya mencatat orang kaya yang jatuh melarat karena dia tidak bisa menikmati indahnya beribadah dengan kelebihan harta yang Allah anugerahkan kepadanya.


sumber : http://oase-kautsar.blogspot.com/

Jumat, 20 Juni 2014

Visi Yang Ajaib





" Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah di perbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (Al-Hasyr[59]:18)

Visi adalah tujuan jangka panjang, melintasi batas waktu dan ruang. Setiap usaha yang dilakukan oleh manusia harus didasarkan pada visi hidup yang jelas agar usaha dan pekerjaannya tidak sia-sia.

Mengapa visi disebut sesuatu yang ajaib?

Sebab tanpa visi yang jelas maka hidup tidak akan ada artinya, sebaliknya dengan visi yang jelas, seseorang akan bisa "hidup" lebih panjang dari usia hidup yang sebenarnya.

Hidup di dunia ini merupakan nikmat terbesar manusia, dan tidak akan ada kesempatan kedua kalinya setelah mati.Maka sudah seharusnyalah kesempatan itu kita gunakan dengan sebaik-baiknya, agar kita tidak tergolong orang yang merugi nantinya.

Manusia diberi dua pilihan oleh Allah, yaitu jalan kebaikan dan jalan kesesatan. Untuk menentukan dan memastikan pilihan hidupnya, Allah memberi mereka usia hidup sekitar 60-70 tahun. Kehidupan yang hanya sebentar akan menjadi sesuatu yang sia-sia bila dijalani sekedarnya saja tanpa arah dan tujuan yang jelas.

Visi ibarat puncak gunung yang tinggi. Setiap manusia adalah seorang pendaki yang sedang mendaki puncak gunung itu. Seseorang yang hidup dengan visi yang jelas ibarat pendaki yang telah menambatkan tali sebagai tempat bergantung di puncak gunung itu., sehingga langkah pendakiannya jelas dan hanya perlu berpegangan erat pada tali untuk membantu pendakiannya, serta menginjakkan kaki pada sisi gunung yang bisa untuk diinjak. Bila untuk menginjakkan kaki pada satu sisi dia menemui kesulitan, dengan mudah dia bisa mencari sisi yang lain dengan tetap bergelantung di tali itu hingga menemukan jalan lain untuk sampai ke puncak gunung.



Begitulah visi. Ia adalah tujuan yang akan mengarahkan langkah dan, prilaku, pikiran dan keyakinan indidividu sehingga dia bisa mencapai puncak kesuksesannya di dunia dan di akhirat.

Visi dan misi hidup setiap orang berbeda-beda, sehingga langkah yang ditempuh, perilaku, fikiran dan keyakinannya pun berbeda. Keberagaman visi itu menimbulkan keberagaman profesi, pemikiran dan sikap antara satu orang dengan yang lainnya. Allah sudah mementukan misi hidup setiap orang sesuai dengan bakat dan kemampuan yang diperoleh dari interaksinya dengan lingkungan.

Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan sebuah misi hidup sangat panjang. sementara waktu dan usia manusia teramat pendek. Maka, visi dan tujuan hidup yang jelas dan diperjuangkan dengan penuh komitmen dan tanggung jawab akan menjadikan kehidupannya dikenal dan dikenang hingga ratusan bahkan ribuan tahun setelah kematiannya.

Visi Hidup Nabi Ibrahim


" Ingatlah hamba-hamba Kami, Ibrahim, Ishaq, dan Ya'kub yang mempunyai karya-karya besar dan ilmu pengetahuan (visi) yang jauh kedepan."(Shaad[38]:45)

Nabi Ibrahim bertempat tingal di Baitul Maqdis selama dua puluh tahun. Karena tidak dikarunia anak dari istri pertamabya Sarah, Sarah menyarankan agar Ibrahim menikahi hamba sahaya perempuannya, Hajar. Namun tatkala Hajar melahirkan anaknya, kecemburuan Sarah menjadi memuncak sehingga ia meminta Ibrahim mengasingkannya. Allah swt. memerintahkannya untuk membawa Hajar dan anaknya Ismail yang masih disusui ke lembah Mekah yang terletak di Baitullah.

"Wahai Ibrahim, hendak pergi kemanakah engkau? Apakah kamu akan meninggalkan kami di lembah gersang, yang tidak ada siapa pun disini?" Hajar mengatakan itu berulang kali, sehingga membuat Ibrahim selalu menoleh kepadanya. Hajar berkata, "Apakah Allah memerintahkanmu untuk melakukan ini?" Ibrahim menjawab, "Ya"

Mendengar jawaban itu, Hajar pun pergi menemui anaknya sementara Ibrahim pergi menuju Baitul Maqdis. Setelah hilang dari pandangan Hajar, dia turun dari untanya. Air matanya berlinang, hatinya terenyuh meninggalkan istri dan anaknya di lembah yang gersang dan tandus itu. Ibrahim menghadapkan wajahnya ke Baitullah dan berdoa,

"Wahai Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Wahai Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur" (Ibrahim[14]:37)

Ibrahim menginginkan keturunannya menjadi orang -orang yang mendirikan shalat dan mensyukuri nikmat Allah. Itulah visi hidup Ibrahim yang terdapat pada doanya itu.

Allah Maha pengasih dan Penyayang terhadap hambanya, adanya sumur Zamzam yang telah sama-sama kita ketahui sejarahnya telah merubah sebuah tempat yang gersang dan tandus menjadi tempat yang ramai dikunjungi, bahkan apa yang telah dilalui Ibrahim dan Hajar dalam kehidupannya selalu di napaktilasi setiap tahunnya dalam penyelenggaraan ibadah haji, seperti ibadah sai, melontar jumrah, sampai dengan ibadah kurban.

Itulah buah dari kekuatan iman dan kejelasan visi hidup, sehingga Allah menjadikan generasi kenabian berikutnya dari keturunannya.

"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan Al kitab, maka diantara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak diantara mereka yang fasik" (Al-Hadid[57]:26)

Visi Hidup Rasulullah saw

Anda tentu sangat mengetahui akhlak Rasulullah saw. Sejak kecil dia tidak pernah berbohong, selalu menepati janji, penyayang, cerdas dan visioner. Visi hidupnya ingin menjadikan Islam sebagai rahmat untuk seluruh penghuni alam semesta.

Lihatlah bagaimana dalam keadaan terjepit, sebelum pecahnya perang Khandaq, saat pasukannya dikepung oleh 10.000 pasukan koalisi kaum kafir Quraisy Mekah dan beberapa kabilah Yahudi di Madinah yang mengkhianati perjanjian damai dengan umat Islam. Rasulullah saw menggambarkan dengan jelas dan indah, arti sebuah visi dan harapan besarnya.

Beliau mengambil cangkul dan berkata kepada para sahabatnya, Allahu Akbar. Telah diberikan kepadaku kunci-kunci negeri Syam." Beliau kembali memukul dengan cangkul dan berkata, "Allahu Akbar, telah diberikan kepadaku kunci-kunci pintu negeri Persia! Demi Allah sesungguhnya aku melihat istana Madain yang putih." Beliau kemudian memukulkan cangkulnya untuk ketiga kalinya dan berkata, "Allahu akbar, telah diberikan kepadaku kunci-kunci negeri Yaman. Demi Allah, sesungguhnya aku melihat pintu-pintu istana Shan'a dari tempatku saat ini." (HR.Ahmad)

Dalam sabdanya yang lain, Rasulullah saw pernah menggambarkan tentang masa depan Islam,"Agama ini akan sampai pada setiap tempat dimana ada malam dan siang, dan Allah tidak akan membiarkan satu rumahpun kecuali agama ini akan masuk kedalamnya bersama kemuliaan orang yang mulia atau kehinaan orang yang hina. Kemuliaan yang Allah muliakan dengan Islam dan kehinaan yang Allah hinakan dengan kekufuran" (HR.Ahmad)

makna dua hadis tersebut sangat imajinatif, futuristik dan optimistik. Rasulullah menggambarkan secara imajinatif bahwa seluruh penduduk bumi dari pusat perkotaan hingga pelosok kampung, dari puncak gedung-gedung pencakar langit hingga ke gubuk-gubuk reyot, mereka semua masuk Islam dengan perantaraan orang-orang saleh dan mulia.

Dua tahun setelah beliau wafat, yaitu antara tahun 634 hingga 732 Masehi, Islam sudah menyebar ke seluruh negara di Timur tengah hingga Afrika Utara. Pada tahun 870 Masehi, akidah dan budaya Islam sudah dikenal oleh masyarakat yang tinggal di Asia Tengah. Sekitar tahun 1000 sampai 1071 Masehi, Islam telah masuk ke India. tahun 1095 hingga 1099, Islam mulai masuk wilayah Turki dan Eropa.

Jejak Islam di Eropa masih tetap ada. Beberapa wilayah di benua itu masih menyimpan bukti-bukti ekspansi Islam dan mayoritas penduduknya beragama Islam, seperti di Balkan, Bosnia-Herzegovina, Turki, Albania, Kazakhstan, Azerbaijan, juga beberapa negara disekitar wilayah pegunungan Kaukasus dan beberapa daerah di timur laut negara Bulgaria.

Tahun 1200 hingga 1368, Islam telah mendamaikan dan mempersatukan suku-suku bengis dan sadis yang menempati beberapa wilayah disekitar pegunungan Mongolia. Mereka bersatu dibawah naungan akidah dan budaya Islam. Tahun 1400 Masehi, Islam sudah masuk ke wilayah Malaka, Sulawesi dan Sumatera.

Visi Rasulullah menjadi sebuah kesuksesan yang nyata setelah beliau wafat. Rasulullah hidup 63 tahun, lama beliau berdakwah hanya 23 tahun. Jika Allah menganugerahi anda usia seperti Rasulullah (63 th), berapa lama pun anda berdakwah, anda belum tentu bisa menikmati hasilnya disaat anda hidup. Jika anda konsisten dengan visi dakwah Anda, ratusan bahkan ribuan tahun setelah anda wafat, dengan izin Allah, visi Anda akan menjadi kenyataan. Anda tinggal menikmati pahalanya diakhirat nanti.

Menentukan visi adalah hal yang mudah, tetapi mewujudkannya bukanlah hal yang gampang. Anda perlu energi ekstra, tenaga dan fikiran untuk mewujudkannya. Anda tidak bisa mewujudkan visi hidup hanya dalam satu dua tahun. Anda membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk mewujudkannya. Dengan visi hidup yang jelas, Anda akan menjalani "hidup" selama ratusan bahkan ribuan tahun. Selama masih ada orang-orang yang kuat memegang teguh dan melanjutkan visi itu, selama itulah anda akan "hidup".


Rabu, 18 Juni 2014

Pesan Imam Al Ghozali Untuk Para Pelajar


Syaikhul ‘Alim al-’Allamah, Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali at-Thusiy adalah nama lengkap Imam Al-Ghazali. Beliau adalah seorang ilmuwan ternama yang lahir di Thus, Khurasan (kira-kira 10 mil dari Naisabur, Persia) pada tahun 450 Hijriah. Di kalangan umat Islam ia lebih dikenal dengan nama Imam Ghazali, sedangkan di kalangan intelektual Barat dia lebih masyhur dengan nama Profesor Gazelle.

Oleh: Abunabiel Al-Faqier dari Berbagai Sumber
Imam Al-Ghazali pernah menjadi Guru Besar dan rektor pada Perguruan Tinggi Syafi’iyah “An-Nizamiyah” di Baghdad pada tahun 484 Hijriah. Dalam kitabnya“Bidayatul Hidayah”, Imam Al-Ghazali menyampaikan pesan yang sangat mendalam buat para pelajar yang menimba ilmu pengetahuan agar tidak terjeremus ke dalam ilmu yang sia-sia dan tak bermanfaat. Berikut petikan pesan beliau:
“Wahai para pelajar yang sedang berkecimpung dalam menuntut ilmu pengetahuan, yang sedang mengabdi dan menggandrungi ilmu, ketahuilah! Sesungguhnya kamu saat sekarang baru berada di tengah-tengah samudera yang luas, yang sedang kamu arungi untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan memperdalamnya.”

“Ibarat orang berdagang, maka ‘akad jual-beli yang demikian adalah mendatangkan kerugian yang besar. Di samping dirimu sendiri rugi, orang yang telah mendidikmu akan merasa rugi pula, sebab mereka merasa telah memberikan pertolongan kearah maksiat, menuju jurang kehancuran.
Ibarat seorang penjual senjata, dia telah menjualnya kepada seorang penjahat di tengah jalan, senjata tersebut digunakan untuk menodong penjual itu sendiri. Demikian nasib gurumu apabila niatmu keliru di dalam menuntut ilmu pengetahuan.”
Apabila niat dan tujuanmu di dalam menuntut ilmu semata-mata mencari keridhaan Allah,maka berbahagialah. Karena sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya, demikian juga ikan-ikan di tengah samudera meminta keridhaan dan kasih sayang Allah buatmu, sehingga segala tindak langkah yang kamu tempuh selalu dalam naungan ridha dan ampunan-Nya.”
“Sebelum kamu belajar, hendaknya terlebih dahulu kamu bersihkan hatimu dari segala kemaksiatan dan kemalasan. Ketahuilah! Apabila hatimu masih berusaha untuk menunda-nunda kesempatan baik, maka sesungguhnya hatimu telah dipengaruhi oleh hawa nafsu, emosi, dan dorongan syetan yang terkutuk. Syetan yang telah mempermainkan hatimu agar selalu …
berada di jurang kesesatan dan kemaksiatan. Syetan yang telah membisikkan di telingamu agar tidak mengutamakan ilmu pengetahuan. Syetan yang telah memperdayamu dengan tipu daya dan irama-irama agar engkau berilmu tapi berada dalam kesesatan.”
"Ilmu itu cahaya" dan hakekat ilmu itu bukanlah menumpuknya wawasan pengetahuan pada diri seseorang, tetapi ilmu itu adalah cahaya yang bersemayam dalam kalbu.
Kedudukan ilmu dalam Islam sangatlah penting. Rasulullah saw., bersabda: "Sesungguhnya Allah swt., para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi hingga semut dalam tanah, serta ikan di lautan benar-benar mendoakan bagi pengajar kebaikan". (HR. Tirmidzi). Nabi juga bersabda: "Terdapat dua golongan dari umatku, apabila keduanya baik, maka manusia pun menjadi baik dan jika keduanya rusak maka rusaklah semuanya, yakni golongan penguasa dan ulama" (HR. Ibnu 'Abdil Barr dan Abu Naim dengan sanad yang lemah).
Mengingat kedudukan ilmu yang penting itu, maka menuntut ilmu adalah ibadah,memahaminya adalah wujud takut kepada Allahmengkajinya adalah jihad, mengajarkannya adalah sedekah dan mengingatnya adalah tasbih.
Dengan ilmu, manusia akan mengenal Allah dan menyembah-Nya. Dengan ilmu, mereka akan bertauhid dan memuja-Nya. Dengan ilmu, Allah meninggikan derajat segolongan manusia atas lainnya dan menjadikan mereka pelopor peradaban.
Oleh karena itu, sebelum menetapkan hati untuk menuntut ilmu, Imam al-Ghazali menyarankan agar para pelajar membersihkan jiwa dan hatinya dari akhlak tercela. Sebab ilmu merupakan ibadah kalbu dan salah satu bentuk pendekatan batin kepada Allah Subhanahuwata'alaa.
Sebagaimana shalat itu tidak sah kecuali dengan membersihkan diri dari hadats dan kotoran, demikian juga ibadah batin dan pembangunan kalbu dengan ilmu, akan selalu gagal jika berbagai prilaku buruk dan akhlak tercela tidak dibersihkan. Sebab kalbu yang sehat akan menjamin keselamatan manusia, sedangkan kalbu yang sakit akan menjerumuskannya pada kehancuran yang abadi. Penyakit kalbu diawali dengan ketidaktahuan tentang Sang Khalik (al-jahlu billah), dan bertambah parah dengan mengikuti hawa nafsu. Sedangkan kalbu yang sehat diawali dengan mengenal Allah (ma'rifatullah), dan vitaminnya adalah mengendalikan nafsu.
Wahai anakku yang termasuk bagian dari nasihat apa yang disampaikan oleh rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam adalah "Tanda berpalingnya Allah dari seorang hamba adalah apabila disibukannya hamba tersebut dengan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya. Orang yang kehilangan masa usianya yang tidak digunkan untuk ibadah, maka pasti ia akan mengalami penyesalan yang berkepanjangan. Barangsiapa yang sudah berumur 40 tahun, di mana kebaikannya tidak bisa menutupi keburukannya, maka bersiap-siaplah ia masuk ke dalam neraka.”
Nasehat ini cukup bagi orang-orang yang beriman. Wahai anakku, nasehat itu mudah yang sulit adalah menerima dan menjalankan nasehat tersebut.
Bagi orang yang suka menuruti bahwa nafsunya, nasehat itu terasa sangat pahit karena hal-hal yang dilarang oleh agama sangat disukai dalam hatinya. Inilah beberapa nasehat Imam Al-Ghazali, camkan dan renungkanlah !. Semoga nasehat ini menmbah ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wata'alaa.
1.    Amalakan Ilmumu.
Ilmu adalah harta yang paling berharga diantara harta-harta yang ada di dunia ini. Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. Seseorang yang memiliki ilmu kemudian ilmu itu ia amalkan maka akan membawa kebaikan dan keberkahan baginya baik di dunia maupun di akhirat.
Bagi yang menuntut ilmu tetapi tidak diamalkan ilmunya tapi digunakan untuk menunjukan kehebatan dan kekuatan dirinya serta untuk tujuan hal-hal yang berbau keduniaan, maka ilmunya itu hanya akan jadi sia-sia. Yakinlah sesungguhnya ilmu yang tidak diamalkan pasti tidak ada paedahnya.
Amlakanlah ilmu walupun sedikit yang kita miliki. Sampaikanlah ilmu itu walu satu ayat, karena ilmu adalah pelita yang dapat menjadi penerang bagi orang yang sedang berada dalam kegelapan.
2.       JANGANLAH Niat Menuntut Ilmu untuk Mencari Keduniaan.
Saat menjelang ujian tiba berapa banyak malam yang kita gunkan untuk mempelajari ilmu sampai kita tidak tidur. Kita begitu semangat untuk belajar. Menghapal rumus-rumus dan materi perkuliahan lainnya menjadi kebiasaan. Jika semangat dalam belajar itu untuk tujuan mencari materi atau menarik kebutuhan duniawi atau meraih kedudukan dalam hal pangkat keduniaan atau kebanggaan diri di hadapan manusia, maka kerusakan diri pasti akan kita rasakan.
Jika niat kita belajara semata-mata untuk menghidupkan syariat nabi Muhammad dan membersihkan akhlak serta mengalahkan nafsu amarah yang selalu mengajak pada perbuatan jahat, kita tentu akan merasakan kebahagiaan dan keuntungan. Jagalah niat kita dalam menuntut ilmu semata-mata hanya untuk mencari ridha Allah dan menjemput kemuliaan yang telah di janjikannya.
3.       Ingatlah Akan Kubur.
Dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Kematian akan memisahkan kita dengan dunia yang sering membuat manusia terlena. Kemudian kita akan sampai pada sebuah tempat yang paling ditakuti banyak manusia, yaitu alam kubur. Jika dunia ini begitu lapang, selalu indah, mempesona dan enak dipandang mata, tidak demikian halnya dengan alam kubur. Alam Kubur sangat sempit, pengap, gelap dan penuh dengan binatang yang akan mengurai jasad tubuh kita.
Jika didunia seseorang beriman dan beramal shaleh, mengikuti segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah, maka ia akan merasakan kuburnya lapang dan terang. Tapi tidak demikian halnya bagi yang selama di dunia ingkar kepada Allah. Kuburnya sempit, gelap, dan binatang-binatang penghuni tanah akan segera mengurai jasadnya. Di alam kubur ini ia akan menerima sebagian siksa alloh akibat perbuatan buruknya selama di dunia.
4.       Bertahajudlah Setiap Malam.
Pada sebagaian malam bertahajudlah sebagai bentuk ibadah tambahan bagi kita. Seretlah kaki ini melangkah menuju tempat wudhu kemudian paksakan lutut kita berdiri kokoh walau kantuk begitu munguasai. Rasulullah bersabda,”Wahai pulan, janganlah engkau banyak tidur malam, sbab orang yang banyaka tidur malam itu bisa menjadikan pakir pada hari kiamat”.
Tatkala manusia berselimut mimpi pada malam yang begitu gulita, panjatkanlah do’a dan mohon ampun lah kepada Allah. Karena allah sangat menyukai hambanya yang mendirikan shalat, membaca Al-Qur’an dan berdo’a di sepertiga malam terakhir.
5.       Sesuaikan Perkataan dg. perbuatan.
Sesuaikan perkataan dengan perbuatan dan hati menjaga lisan. Allah sangat membenci hambanya yang mengatakan seusuatu tetapi tidak dilakukan dan tidak di amalakannya.
Sesungguhnya lisan yang tidak dikendalikan ucapannya dan hati yang tertutup oleh luapan syahwat merupakan tanda kerusakan. Olehkarena itu jagalah nafsu lisan dengan bertaqarrub kepada allah. Keluarkanlah perkataan yang baik-baik saja atau kalau tidak lebih baik diam.
6.       Berqarublah Kepada Allah.
Sesungguhnya alloh sangat dekat dengan kita, namun hal ini sering tidak kita sadari. Kita merasa jauh dari alloh,padahal jika kita melangkah kepada allah, alloh akan menghampiri kita. Kita akan merasa tentram dan tenang jika bertaqarub kepada alloh. Ada empat hal yang harus dilakukan oleh manusia yang menempuh jalan taqarub (kedekatan) kepada alloh yaitu:
-       Punya keyakinan yang benar kepada Allah dan jauh dari bid’ah.
-       Melakukan taubat nasuha dan bertekad untuk tidak mengulangi lagi kemaksiatan.
-       Minta keridhaan orang yang pernah menjadi musuh kita.
-       Belajar ilmu agama supaya bias menjalankan perintah allah dengan benar.
7.    Carilah Guru dalam Bertaqarub Kepada Allah.
Apabila kita ingin memperbaiki akhlak, beribadah dan mencari kedekatan dengan Allah maka kita harus memiliki seorang guru yang dapat menunjukan dan juga dapat mengeluarkan kita dari belenggu kebodohan dan membawa kita kepada akhlak yang mulia agar tidak tersesat maka tidak sembarang orang mejadi guru. Adapun syarat menjadi guru yang pantas kita turuti antara lain:
a. Alim, Ciri-ciri orang yang alim ia berpaling dari kesenangan duniawi, ia tidak menyukai pangkat dan kedudukan. Ia juga mempunyai seorang guru alim yang sangat hati-hati terhadap barang subhat dan haram. Gurunya mempunyai gurunya lagi yang alim pula sehingga menyambung terus menerus.
b.   Berakhlak Mulia. yaitu guru yang mampu mengendalikan nafsunya, sedikit makannya, berbicara dan tidurnya. Ia memperbanyak ibadah wajib dan sunnah.
8.    Empat Perkara Harus Dilakukan.
Ada empatperkara yang seharunya dilakukan, yaitu:
-     Jadikan hubungan dg. Allah seperti seorang budak dengan tuannya.
-     Apabila kita berhubungan dengan manusia, tanamkan perasaan senang di hati kepada mereka seperti kita menyenangi diri kita sendiri.
-     Ketika mempelajari suatu ilmu, sebaiknya ilmu yang kita pelajari adalah ilmu yang bias membuat hati kita menjadi baik dan membersihkan diri dari kemaksiatan.
-     Jangan mengumpulkan harta dunia seolah-olah kita akan kekal di dunia ini. Tapi kumpulkan lah bekal akhirat dimana disanalah tempat kita abadi.
9.    Jangan Lupa Mendo’akan Orang Tua dan Guru.
Orang tua dan guru adalah orang yang paling berjasa dalam hidup kita merekalah orang-orang yang tidak pamrih mengharapkan kita berhasil dalam hidup ini. Tanpa mereka kita bukanlah apa-apa dan bukan pula siapa-siapa. Setiap kali berdo’a kepada alloh, sisipkanlah sepucuk pinta untuk mereka. Semoga Bermanfaat... 
Sumber : daarelarhaam.blogspot.com