Kamis, 31 Juli 2014

Revolusi Mental Ala Bung Karno


Revolusi mental! Gagasan ini sedang naik daun kembali. Memang, sejak Calon Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggulirkannya, gagasan ini cukup ramai diperdebatkan.
Gagasan ‘revolusi mental’ menggoda banyak orang. Bagi mereka, revolusi mental dibutuhkan untuk membabat habis mentalitas, mindset, dan segala bentuk praktik buruk yang sudah mendarah-daging sejak jaman Orde Baru hingga sekarang. Namun, tidak sedikit pula yang mencibir gagasan ini sebagai ‘ide komunistik’.
Gagasan revolusi mental, sebagai usaha memperharui corak berpikir dan bertindak suatu masyarakat, bisa ditemukan di ideologi dan agama manapun. Dalam Islam pun ada gagasan revolusi mental, yakni konsep ‘kembali ke fitrah’: kembali suci atau tanpa dosa. Jadi, gagasan ini bukanlah produk komunis atau ideologi-ideologi yang berafiliasi dengan marxisme.
Namun, terlepas dari polemik itu, Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 ini patut diapresiasi. Sebab, bukan hanya berhasil mencuatkan kembali nama dan figur Bung Karno, tetapi juga berhasil mempopulerkan kembali gagasan-gagasan revolusi nasional Indonesia. Salah satunya: Revolusi Mental.
Dalam revolusi nasional Indonesia, gagagasan revolusi mental memang tidak bisa dipisahkan dari Bung Karno. Dialah yang menjadi pencetus dan pengonsepnya. Dia pula yang mendorong habis-habisan agar konsep ini menjadi aspek penting dalam pelaksanaan dan penuntasan revolusi nasional Indonesia.
Saya kira, sebelum mengulas esensi revolusi mental versi Bung Karno, kita perlu mengenal konteks sosial-historis yang melahirkan gagasan Bung Karno tersebut. Sebab, tanpa mengenal konteks sosial-historisnya, kita juga akan bias menangkap esensi dan tujuan dari gagasan tersebut.
Gagasan revolusi mental mulai dikumandangkan oleh Bung Karno di pertengahan tahun 1950-an. Tepatnya di tahun 1957. Saat itu revolusi nasional Indonesia sedang ‘mandek’. Padahal, tujuan dari revolusi itu belum tercapai.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan revolusi itu mandek. Pertama, terjadinya penurunan semangat dan jiwa revolusioner para pelaku revolusi, baik rakyat maupun pemimpin nasional. Situasi semacam itu memang biasa terjadi. Kata Bung Karno, di masa perang pembebasan (liberation), semua orang bisa menjadi patriot atau pejuang. Namun, ketika era perang pembebasan sudah selesai, gelora atau militansi revolusioner itu menurun.
Kedua, banyak pemimpin politik Indonesia kala itu yang masih mengidap penyakit mental warisan kolonial, seperti “hollands denken” (gaya berpikir meniru penjajah Belanda).  Penyakit mental tersebut mencegah para pemimpin tersebut mengambil sikap progressif dan tindakan revolusioner dalam rangka menuntaskan revolusi nasional.
Sementara di kalangan rakyat Indonesia, sebagai akibat praktek kolonialisme selama ratusan tahun, muncul mentalitas ‘nrimo’ dan kehilangan kepercayaan diri (inferiority complex) di hadapan penjajah.
Ketiga, terjadinya ‘penyelewengan-penyelewengan’ di lapangan ekonomi, politik, dan kebudayaan. Penyelewengan-penyelewengan tersebut dipicu oleh penyakit mental rendah diri dan tidak percaya diri dengan kemampuan sendiri. Juga dipicu oleh alam berpikir liberal, statis, dan textbook-thinkers(berpikir berdasarkan apa yang dituliskan di dalam buku-buku).
Di lapangan ekonomi, hingga pertengahan 1950-an, sektor-sektor ekonomi Indonesia masih dikuasai oleh modal Belanda dan asing lainnya. Akibatnya, sebagian besar kekayaan nasional kita mengalir keluar. Padahal, untuk membangun ekonomi nasional yang mandiri dan merdeka, struktur ekonomi kolonial tersebut mutlak harus dilikuidasi.
Namun, upaya melikuidasi struktur ekonomi nasional itu diganjal oleh sejumlah pemimpin politik dan ahli ekonomi yang mengidap penyakit rendah diri (minderwaardigheid-complex). Bagi mereka, Indonesia yang baru merdeka belum punya modal dan kemampuan untuk mengelola sendiri kekayaan alamnya. Karena itu, mereka menganjurkan kerjasama dengan negara-negara barat dan sebuah kebijakan ekonomi yang toleran terhadap modal asing.
Di lapangan politik, Indonesia kala itu mengadopsi demokrasi liberal yang berazaskan “free fight liberalism”. Alam politik liberal itu menyuburkan perilaku politik ego-sentrisme, yakni politik yang menonjolkan kepentingan perseorangan, golongan, partai, suku, dan kedaerahan. “Dulu jiwa kita dikhidmati oleh tekad: aku buat kita semua. Sekarang: aku buat aku!” keluh Bung Karno.
Demokrasi liberal ini juga menyebabkan ketidakstabilan politik dan perpecahan nasional. Akibatnya, dalam periode demokrasi liberal antara tahun 1950 hingga 1959, terjadi 7 kali pergantian pemerintahan/kabinet. Tak hanya itu, gerakan separatisme dan fundamentalisme juga menguat kala itu.
Bung Karno menyebut demokrasi liberal sebagai “hantam-kromo”; bebas mengkritik, bebas mengejek, dan bebas mencemooh. Di sini Bung Karno tidak alergi dengan kebebasan menyatakan pendapat dan melancarkan kritik. Namun, menurut dia, setiap kebebasan mestilah punya batas, yakni kepentingan rakyat dan keselamatan negara.
Di lapangan kebudayaan merebak penyakit individualisme, nihilisme dan sinisme. Kebudayaan tersebut membunuh kepribadian nasional bangsa Indonesia yang berdasarkan kolektivisme dan gotong-royong. Tak hanya itu, kebudayaan feodal dan imperialistik juga bergerilya menanamkan jiwa pengecut, penakut, lemah, dan tidak percaya diri kepada rakyat Indonesia dalam bertindak dan berbuat.
Itulah yang dihadapi oleh revolusi nasional saat itu. Dan, di mata Bung Karno, sebagian besar rintangan terhadap revolusi di atas bersumber pada corak berpikir dan bertindak yang bertolak-belakang dengan semangat kemajuan. Jadi, revolusi mental ala Bung Karno itu sangat dipengaruhi oleh konteks ekonomi-politik jaman itu. Revolusi mental-nya juga tidak diisolir dari perjuangan mengubah struktur ekonomi-politik kala itu.
Karena itu, Bung Karno menyerukan perlunya “Revolusi Mental”. Dia mengatakan, “karena itu maka untuk keselamatan bangsa dan negara, terutama dalam taraf nation building dengan segala bahayanya dan segala godaan-godaannya itu, diperlukan satu Revolusi Mental.”
Esensi dari revolusi mental ala Bung Karno ini adalah perombakan cara berpikir, cara kerja/berjuang, dan cara hidup agar selaras dengan semangat kemajuan dan tuntutan revolusi nasional. “Ia adalah satu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala,” kata Bung Karno.
Perombakan cara berpikir, cara kerja, dan cara hidup ini punya dua tujuan besar: pertama, menamankan rasa percaya diri pada diri sendiri dan kemampuan sendiri; dan kedua, menanamkan optimisme dengan daya kreatif di kalangan rakyat dalam menghadapi rintangan dan kesulitan-kesulitan bermasyarakat dan bernegara.
Untuk melancarakan revolusi mental ini, Bung Karno kemudian menganjurkan ‘Gerakan Hidup Baru’. Gerakan ini merupakan bentuk praksis dari revolusi mental. Menurut Soekarno, setiap revolusi mestilah menolak ‘hari kemarin’ (reject yesterday). Artinya, semua gaya hidup lama, yang tidak sesuai dengan semangat kemajuan dan tuntutan revolusi, mestilah dibuang.
Namun, ia menolak anggapan bahwa Gerakan Hidup Baru hanyalah soal penyederhanaan alias hidup sederhana. “Buat apa sederhana, kalau kesederhanaan itu ya sederhanannya seorang gembel yang makan nasi dengan garam saja, tidak dari piring tapi dari daun pisang, dan tidur di tikar yang sudah amoh, tetapi jiwanya mati seperti kapas yang sudah basah, yaitu jiwa mati yang tiada gelora, jiwa mati yang tiada ketangkasan nasional sama sekali, jiwa mati yang tiada idealisme yang berkobar-kobar, jiwa mati yang tiada kesediaannya untuk berjuang. Buat apa kesederhanaan yang demikian itu?” katanya.
Bung Karno sadar, revolusi mental tidak akan berjalan hanya dengan celoteh dan kotbah tentang pentingnya perbaikan moral dan berpikir positif. Revolusi mental versi Bung Karno bukanlah ajakan berpikir positif dan optimistik ala Mario Teguh. Karena itu, sejak tanggal 17 Agustus 1957 pemerintahan Soekarno melancarkan sejumlah aksi: hidup sederhana, gerakan kebersihan/kesehatan, gerakan pemberantasan buta-huruf, gerakan memassalkan gotong-royong, gerakan mendisiplikan dan mengefisienkan perusahaan dan jawatan negara, gerakan pembangunan rohani melalalui kegiatan keagamaan, dan penguatan kewaspadaan nasional.
Yang menarik, semisal dalam gerakan hidup sederhana, yang ditekankan bukan hanya soal gaya hidup sederhana dan hidup hemat, tetapi juga upaya menghentikan impor barang-barang kebutuhan hidup dari luar negeri, penghargaan terhadap produksi nasional, dan membangkitkan kesadaran berproduksi. Soekarno sadar, gerakan hidup sederhana akan percuma jika nafsu belanja/konsumtifisme tidak terkendali. Apalagi, jika nafsu belanja itu adalah belanja barang impor.
Begitu juga dengan gerakan kebersihan/kesehatan. Di sini tidak hanya ajakan menjaga kebersihan, tetapi gerakan memassalkan olahraga sebagai jalan membangun kesehatan jasmani.
Juga dalam gerakan pemberantasan buta-huruf. Saat itu pemerintah sangat sadar, bahwa baca-tulis adalah penting untuk peningkatan taraf kebudayaan rakyat. Karena itu, pemerintah menggalang mobilisasi rakyat untuk mensukseskan gerakan ini.
Memang, seperti diakui Soekarno, revolusi mental bukanlah pekerjaan satu-dua hari, melainkan sebuah proyek nasional jangka panjang dan terus-menerus. “Memperbaharui mentalitet suatu bangsa tidak akan selesai dalam satu hari,” ujarnya. Dia juga bilang, memperbaharui mentalitas suatu bangsa tidak seperti orang ganti baju; dilakukan sekali dan langsung tuntas.
Timur Subangunkontributor Berdikari Online

Minggu, 27 Juli 2014

Betapa Maha Sayangnya Dia pada Kita!

Betapa Maha Sayangnya Dia pada Kita!

Saat kau bangun pagi hari......, 

AKU memandangmu dan mengharap engkau akan berbicara kepada-KU...., 
walaupun hanya sepatah kata meminta kepada-KU atau bersyukur kepada-KU atas sesuatu hal yang terjadi dalam hidupmu hari ini atau kemarin...

Tetapi.... 
AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja......
AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap......, 

AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan  menyapa-KU......., 
tetapi engkau tetap sibuk.........
Di satu tempat engkau duduk disebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun......
Kemudian AKU melihat engkau menggerakkan kakimu......., 

AKU harap engkau akan berbicara pada-KU tetapi engkau berlari ke telepon dan menghubungi seorang teman mendengarkan kabar terbaru.......
AKU....., 

melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan AKU menanti dengan sabar sepanjang hari...., 
dengan semua kegiatanmu AKU berpikir engkau terlalu sibuk mengucapkan sesuatu kepada-KU.......
Sebelum makan siang...., 

AKU melihatmu memandang sekelilingmu, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepada-KU...., itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu......

ENGKAU memandang tiga atau empat meja disekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut nama-KU dengan lembut sebelum menyantap rizki yang AKU berikan....., 

tetapi engkau tidak melakukannya......
Masih ada waktu yang tersisa dan AKU berharap engkau akan berbicara kepada-KU......, 

meskipun saat engkau pulang kerumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang kau harus kerjakan.......
Setelah tugasmu selesai......, 

engkau menyalakan TV, engkau menghabiskan banyak waktu setiap hari di depannya...., 
tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara yang ditampilkan.......
Kembali AKU menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati makananmu...., 

tetapi kembali kau tidak berbicara kepada-KU.......
Saat tidur......, 

KU-pikir kau merasa terlalu lelah......
Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu....., 

kau melompat ke tempat tidur dan tertidur tanpa sepatah katapun nama-KU kau sebut.........
Engkau tidak menyadari bahwa AKU selalu hadir untukmu........

AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari........
AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain......

AKU sangat menyayangimu......, 

setiap hari AKU menanti sepatah kata..., doa..., pikiran atau rasa syukur dari hatimu.....
Keesokan harinya......, 

engkau bangun kembali dan kembali AKU menanti denga penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberi sedikit waktu untuk menyapa-KU......., tapi yang KU-tunggui......, tak kunjung tiba......, tak juga kau menyapa-KU........

Subuh....., Dzuhur......, Ashyar......, Magrib......, Isya dan Subuh kembali......, kau masih mengacuhkan AKU...... tak sepatah pun kata...., tak seucap doa dan tak ada rasa......, tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud kepada-KU........


APA SALAH-KU PADAMU........, WAHAI HAMBA-KU........????
Rezki yang KU-limpahkan, kesehatan yang KU-berikan, harta yang KU-relakan, makanan yang KU-hidangkan, anak-anak yang KU-rahmatkan......, apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepada-KU........????


Percayalah......, AKU selalu mengasihimu...... dan.....AKU tetap mengharap suatu saat engkau akan menyapa-KU....., memohon perlindungan-KU......., bersujud menghadap-KU......, yang selalu menyertaimu setiap saat.......


Subhanallah... Betapa sayangnya Allah pada Kita. Tidak banyak yang Dia minta pada umat-Nya, Syukuri nikmat-Nya, dan Ingatlah Dia dengan Ibadah!

MAHA SUCI ALLAH DENGAN SEGALA KEBESARANNYA !!
MAHA SUCI ALLAH DENGAN SEGALA KASIH SAYANG NYA !!
MASA BESAR ALLAH DENGAN SEGALA KEKUASAAN NYA !!
MAHA BESAR ALLAH DENGAN SEGALA CIPTAAN NYA !!
ALLAHUAKBAR !!!

Rabu, 16 Juli 2014

Syariat dan Hakikat

SYARIAT DAN HAKEKAT DALAM ISLAM 

 

Syariat secara bahasa adalah ajaran/tuntunan. Syariat islam berarti Ajaran /tuntunan dari Allah SWT yang diturunkan kepada nabi/rosulnya untuk dijalankan dimuka bumi. Dasar serta landasan syariat islam adalah alquran dan sunah sebagai contoh mengaplikasikan dalam kehidupan ummatnya. Dasar syariat islam adalah Taukid. Yakni mengEsakan Allah serta tidak menyekutukan Dia dengan sesuatu apapun. Taukid inilah Ruh yang menjadikan spiritual islam dalam mengarungi hidup dan kehidupan di dunia ini. Dan tiada dapat terwujud nilai spiritual suatu kaum kecuali dengan naungan lautan Ketuhanan ini. Selanjutnya, ketetapan hati untuk mengikuti rosul serta undang-undang yang digariskan merupakan kunci kesuksesan dalam mengapai Spiritual Islam.
Sedangkan hakekat secara bahasa berarti inti. Secara istilah berarti inti dari sesuatu hal ( maqosidus syari ). Bahasa hakekat dimunculkan oleh para sufi dalam tassawuf mereka. Hakekat bagi mereka memiliki tingkatan tertinggi yang mesti diraih oleh para salik (pencari Tuhan) dengan jalan suluk. Sehingga, mereka memandang syariat berkedudukan dibawa hakekat.
Bagi seorang muslim memahami ajaran islam suatu kewajiban, maka harus mengembalikan persoalan tersebut kepada Alquran sebagai pedoman hidup mereka. Bagi kelompok syariat mereka memandang bahwa hakekat adalah suatu yang  harus menjadi inti amaliyah syariah, sehingga hakekat itu tidak berdiri sendiri. Tetapi ia adalah nilai ruh syariah itu sendiri. Syariah tanpa hakekat tak sampai,hakekat tanpa syariat tertolak.
 Sedangkan kelompok hakekat, mereka mengangap dengan hakekat telah mampu mencapai nilai Ketuhanan yang ingin dicapai Syariah. sehingga, mereka berjalan melalui suluk dengan bimbingan seorang mursid (guru), yang terkadang sebagian mereka bersebrangan dengan kewajiban-kewajiban syariah.
Padahal ketika kita mencoba merujuk pada kitab-kitab para mursid tasawuf yang menjadi rujukan para salik, misalnya Al Hikam oleh Athoillah, Al ghozali dalam Ihya Ulumuddin, atau kitab Hasan Basri dll, maka kita dapatkan bahwa mereka menyatukan antara syariat dan hakekat dalam satu bingkaian amaliyyah, bukan dipisahkan antara keduanya.
Dengan demikian Kelompok  tasawuf yang menjadikan hakekat sebagai jalan laku (suluk) mereka dapat kita bedakan menjadi 2 kelompok :
1. Kelompok tasawuf yang menjadikan Alquran dan Sunah sebagai rujukan jalan 
    mengapai Mardhotillah dengan tetap menjadikan syariat sebagai perwujudan  
    amaliyyah.
2. Kelompok tasawuf yang sebagian merujuk dasar syariah, sebagaian lain 
    mengambil tradisi agama lain/ masyarakat tempat mereka tinggal.


HAKEKAT DUNIA


Abu Hurairah r.a. berkata bahwa suatu ketika Rasulullah saw. bertanya kepadanya, "Maukah aku perlihatkan kepadamu hakekat dunia?" Beliau menjawab, "Ya." Rasulullah saw. bersama beliau pergi ke suatu tempat pembuangan sampah di luar kota madinah. Di tempat itu berserak benda-benda termasuk tengkorak manusia, kotoran, kain-kain koyak, tulang-belulang dan lain-lain. Rasulullah saw. bersabda, "Abu Hurairah, ini adalah tengkorak manusia, dahulu otak di dalamnya bercita-cita dan tamak untuk dunia, sebagaimana kamu hidup sekarang. Dahulu diapun menaruh harapan seperti kamu sekarang. Hari ini dia terguling di sini tanpa kulit. Sebentar lagi dia kan menjadi tanah. Kotoran ini berasal dari berbagai macam jenis makanan, yang telah diusahakan dengan susah payah lalu dimakan. Kini ia terletak di sini dalam keadaaan menjijikkan, sehingga orang yang melihatnya saja akan menjauh. Kain-kain yang koyak ini dahulu adalah pakaian yang indah dan mahal, dipakai orang lalu merasa bangga dengannya. Hari ini angin menerbangkannya ke sana ke mari. Tulang-tulang ini dahulu dahulu adalah hewan-hewan yang manusia pernah menungganginya dengan perasaan bangga dan berjalan-jalan di muka bumi. Jadi, siapakah yang tidak mau menangis dengan keadaan mereka ini, menangislah sambil melihatnya." Abu Hurairah r.a. berkata bahwa mereka kemudian menangis tersedu-sedu.

Dalam hadits lain Rasulullah saw. bersabda, "Dunia ini (kelihatan zhahirnya) adalah manis dan hijau (segar) dan Allah Swt. telah menjadikan kamu pengganti nenek moyang kamu di dunia ini supaya Dia melihat amalan apakah yang kamu lakukan di sini. Ketika Bani Israil telah diberi kemenangan dunia, maka mereka pernah terlibat dalam kecantikan dunia, wanita-wanitanya dan barang-barangnya."

Isa a.s. berkata, "Janganlah menjadikan dunia sebagai pemimpinmu, nanti dia akan menguasaimu dan menghambakanmu, dan selamatkanlah khazanah hartamu dengan mengantarkannya kepada Dzat Yang Maha Suci, di tempat yang tidak dikhawatirkan lagi kerusakannya. Khazanah-khazanah dunia senantiasa dalam bahaya, sedangkan khazanah-khazanah di sisi Allah selamat dari mara bahaya."

Isa a.s. berkata, "Salah satu dari pengaruh dunia yang buruk adalah kelakuan durhaka kepada Allah yang dilakukan di dunia. Salah satu tanda-tanda kejahatan dunia ialah akhirat tidak dapat diperoleh tanpa meninggalkannya. Pahamilah dengan baik bahwa cinta kepada dunia adalah puncak segala dosa. Mengikuti hawa nafsu dalam tempo yang singkat itu menyebabkan penyesalan dan azab yang panjang." Beliau juga berkata, "Dunia bagi sebagian orang merupakan thalib (yang mencari) dan sebagian orang lagi adalah mathlub (yang dicari). Siapa yang mencari akhirat maka dunia mencarinya dan menyampaikan rezeki kepadanya. Dan siapa yang mencari dunia maka akhirat sendiri tidak mencari dia sehingga ajal menemui dia dan menekan bahunya."

Suatu ketika Sulaiman a.s. sedang dalam perjalanan dengan singgasananya yang terbang. Burung-burung beterbangan di atasnya. Jin-jin dan manusia berada di sebelah kanan dan kirinya. Ketika beliau melalui tempat seorang abid (ahli ibadah) maka abid itu berkata, "Allah Swt. telah memberikan kerajaan besar kepada tuan." (kerajaan yang meliputi manusia, jin dan hewan). Maka Sulaiman a.s. menjawab, "Ucapan Subhanallaah sekali saja yang tercatat dalam kitab amalan seorang muslim lebih utama dibandingkan dengan seluruh kerajaan Sulaiman. Sebab tidak lama lagi semua ini akan berakhir, tetapi pahala untuk mengucapkan Subhanalllaah akan kekal selama-lamanya."

Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya, maka bagi dia tidak ada pertalian dengan Allah dan dia terperangkap dalam empat perkara, (1) Kegelisahan yang tidak akan berakhir (karena terus berfikir bagaimana menambah kekayaan dunia). (2) Kesibukan yang tidak akan memberikan peluang kepadanya untuk menikmati waktu yang lapang. (3) Kemiskinan dan kesempitan yang tidak akan memberikan istighna (kepuasan). (Makin bertambah penghasilan makin bertambah juga pembelanjaan, sehingga terus merasa kurang). (4) Angan-angan yang panjang sehingga tidak akan pernah tercapai.

Dalam suhuf Ibrahim a.s. terdapat firman Allah Swt. sebagai berikut, "Wahai dunia! Betapa hinanya engkau dalam pandangan hamba-hamba-Ku yang saleh sedangkan engkau menghiasi diri untuk menarik perhatian mereka. Aku telah menanamkan perasaaan permusuhan terhadap engkau dalam hati-hati mereka. Aku telah memalingkan hati-hati mereka dari engkau. Tiada satu mahkluk pun yang Aku ciptakan yang lebih hina dari engkau. Segala yang engkau punyai tidak berharga dan akan cepat berakhir. Pada hari ketika Aku menciptakan engkau Aku telah membuat keputusan bahwa engkau tidak akan kekal bersama-sama dengan yang tidak kekal, walaupun pemilikmu begitu bakhil membelanjakan engkau. Beruntunglah hamba-hamba-Ku yang memeberitahu-Ku bahwa mereka rela mati dengan keputusan-Ku dan menyatakan kebenaran serta menepati pendirian itu. Bagi mereka adalah kebahagiaan yang kekal abadi. Ketika mereka akan dibangkitkan dari kubur mereka masing-masing akan datang kepada-Ku, maka pada waktu itu akan diletakkan di hadapan mereka satu cahaya yang ada di sisi-Ku untuk mereka. Malaikat akan berada di sebelah kanan mereka dan juga sebelah kiri mereka. Sehingg aku akan menyempurnakan segala harapan mereka yang telah mereka simpan di sisi-Ku."

Rasulullah saw. bersabda, "bahwa pada hari kiamat, sebagian orang akan dibangkitkan dengan amalan saleh yang banyak seumpama gunung-gunung di jazirah arab, tetapi mereka akan dicampakkan ke dalam neraka jahanam. Seseorang bertanya, "Ya Rasulullah, apakah mereka ini orang-orang yang mengerjakan shalat?" Rasulullah saw. menjawab, "Ya, mereka mengerjakan shalat, berpuasa bahkan shalat tahajjud, tetapi ketika salah satu bentuk dunia (seperti uang atau kemuliaan dunia) datang ke hadapan mereka, maka mereka akan terjun untuk menggelutinya (tanpa memperdulikan halal atau haram)."

Isa a.s. berkata bahwa cinta kepada dunia dan cinta kepada akhirat tidak akan bersatu dalam satu hati, ibarat air dan api tidak dapat bersatu dalam wadah yang sama.
Sahabat yang mulia, Jabir bin Abdullah, mengabarkan bahwa Rasulullah pernah melewati sebuah pasar hingga kemudian banyak orang yang mengelilinginya. Sesaat kemudian beliau melihat bangkai anak kambing yang cacat telinganya. Beliau mengambil dan memegang telinga kambing itu seraya bersabda, ”Siapa di antara kalian yang mau memiliki anak kambing ini dengan harga satu dirham.” Para sahabat menjawab, ”Kami tidak mau anak kambing itu menjadi milik kami walau dengan harga murah, lagi pula apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?” Kemudian Rasulullah berkata lagi, ”Apakah kalian suka anak kambing ini menjadi milik kalian?” Mereka menjawab, ”Demi Allah, seandainya anak kambing ini hidup, maka ia cacat telinganya. Apalagi dalam keadaan mati.”

Mendengar pernyataan mereka, Nabi bersabda, ”Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini untuk kalian.” (HR Muslim). Pada suatu waktu, Rasulullah memegang pundak Abdullah bin Umar. Beliau berpesan, ”Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau orang yang sekadar melewati jalan (musafir).” Abdullah menyimak dengan khidmat pesan itu dan memberikan nasihat kepada sahabatnya yang lain. ”Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah engkau menanti datangnya pagi.

Sebaliknya, bila engkau berada di pagi hari, janganlah engkau menanti datangnya sore. Ambillah (manfaatkanlah) waktu sehatmu sebelum engkau terbaring sakit, dan gunakanlah masa hidupmu untuk beramal sebelum datangnya kematianmu.” (HR Bukhori). Allah SWT berpesan pada pelbagai ayat tentang hakikat, kedudukan, dan sifat dunia yang memiliki nilai rendah, hina, dan bersifat fana. Dalam surat Faathir ayat 5, Allah menekankan bahwa janji-Nya adalah benar. Dan, setiap manusia janganlah sekali-kali teperdaya dengan kehidupan dunia dan tertipu oleh pekerjaan setan.

Di ayat lain dalam surat Al-Hadid ayat 20, Allah berfirman, ”Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” .
”Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Kahfi: 45).
(Sumber : Hikmah Republika, oleh Mahyudin Purwanto )

HAKEKAT AKHIRAT

Allah Memberi Karunia di Dunia ini bagi Orang-orang yang Menginginkannya, Tetapi di Akhirat Mereka akan Menderita Kerugian
Orang-orang yang tidak memiliki ketakwaan kepada Allah dalam hatinya, dan imannya sangat lemah terhadap kehidupan akhirat, hanyalah menginginkan keduniaan. Mereka meminta kekayaan, harta benda, dan kedudukan hanyalah untuk kehidupan di dunia ini. Allah memberi tahu kita bahwa orang-orang yang hanya menginginkan keduniaan tidak akan memperoleh pahala di akhirat. Tetapi bagi orang-orang yang beriman, mereka berdoa memohon dunia dan akhirat karena mereka percaya bahwa kehidupan di akhirat sama pastinya dan sama dekatnya dengan kehidupan dunia ini. Tentang masalah ini, Allah menyatakan sebagai berikut:

“Di antara manusia ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,’ dan tidak ada baginya bagian di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.’ Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari apa yang mereka usahakan, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (Q.s. al-Baqarah: 200-2).

Orang-orang yang beriman juga berdoa memohon kesehatan, kekayaan, ilmu, dan kebahagiaan. Akan tetapi, semua doa mereka adalah untuk mencari keridhaan Allah dan untuk memperoleh kebaikan bagi agamanya. Mereka memohon kekayaan misalnya, adalah untuk digunakan di jalan Allah. Berkenaan dengan masalah ini, Allah memberikan contoh tentang Nabi Sulaiman di dalam al-Qur’an. Jauh dari keinginan untuk memperoleh dunia, doa Nabi Sulaiman untuk meminta kekayaan adalah demi tujuan mulia untuk digunakan di jalan Allah, untuk menyeru manusia kepada agama Allah, dan agar dirinya sibuk berdzikir kepada Allah. Kata-kata Nabi Sulaiman sebagaimana yang diceritakan dalam al-Qur’an menunjukkan niatnya yang ikhlas:
“Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik karena ingat kepada Tuhanku.” (Q.s. Shad: 32).

Maka Allah mengabulkan doa Nabi Sulaiman a.s. tersebut dengan mengaruniakan kepadanya kekayaan yang sangat banyak di dunia dan ia akan memperoleh pahala di akhirat. Dalam pada itu, Allah juga mengabulkan keinginan orang-orang yang hanya menghendaki kehidupan dunia, namun azab yang pedih menunggu mereka di akhirat. Keuntungan yang telah mereka peroleh di dunia ini tidak akan mereka peroleh lagi di akhirat kelak.

Kenyataan yang sangat penting ini diceritakan dalam al-Qur’an sebagai berikut:
“Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami akan memberikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya bagian sedikit pun di akhirat. (Q.s. asy-Syura: 20)
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang, maka Kami segerakan baginya di dunia apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (Q.s. al-Isra’: 18).

Penulis buku ini, yang menulis dengan nama pena HARUN YAHYA, dilahirkan di Ankara pada tahun 1956.

KEIMANAN KUNCI KEBAHAGIAAN DUNIA AKHIRAT.

Al Ustadz Abu Muhammad Harits AbrarAl Qur`an mengarahkan manusia ke tiap jalan yg bermanfaat memberi batasan tegas antara yang haq dan batil petunjuk dan kesesatan dan antara orang-orang yg berbahagia dan orang- orang yg celaka dgn menerangkan ciri-ciri atau karakter masing-masing kelompok yg berlawanan ini. Di dalam Al Qur`an pula didapatkan penjelasan berbagai masalah ushul {pokok prinsipil} dan furu’ lengkap dgn dalil-dalil ‘aqli dan naqli {Al Qur`an dan As- Sunnah}.Al Qur`an sebagai wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sarat dgn petunjuk dan bimbingan bagi kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensifatkan Al Qur`an ini dgn sifat-sifat agung lagi mulia yg berlaku utk seluruh ayatnya.Sifat-sifat tersebut merupakan bukti terbesar bahwa Al Qur`an merupakan landasan utama bagi seluruh disiplin ilmu yg bermanfaat demi kebaikan dunia dan akhirat.Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa Al Qur`an adl Al-Huda Ar-Rusyd dan Al-Furqan {Yaitu Al-‘Ilmu atau pembeda yg memisahkan antara yang haq dari yg batil. Wallahu a’lam}. Bahkan Al Qur`an itu sendiri adl Al-Huda yg memberi petunjuk seluruh manusia kepada semua yg mereka butuhkan dalam urusan dunia dan agama mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:شَهْرُ رَمَضاَنَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّناَتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقاَنِ“ bulan Ramadhan bulan yg di dalamnya diturunkan Al Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda .” Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:تَباَرَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقاَنَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُوْنَ لِلْعاَلَمِيْنَ نَذِيْرًا“Maha Suci Allah yg telah menurunkan Al-Furqaan kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam” Al Qur`an mengarahkan manusia ke tiap jalan yg bermanfaat memberi batasan tegas antara yang haq dan batil petunjuk dan kesesatan dan antara orang-orang yg berbahagia dan orang- orang yg celaka dgn menerangkan ciri-ciri atau karakter masing-masing kelompok yg berlawanan ini. Di dalam Al Qur`an pula didapatkan penjelasan berbagai masalah ushul {pokok prinsipil} dan furu’ lengkap dgn dalil-dalil ‘aqli dan naqli {Al Qur`an dan As- Sunnah}. Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam sejumlah ayat-ayat-Nya telah menerangkan sifat- sifat Al Qur`an ini dgn sifat-sifat mutlak dan umum yg tidak ada kejanggalan sedikitpun di dalamnya.Namun seiring pemaparan sifat-sifat Al Qur`an yg begitu sempurna dan mulia ini ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala membatasi hidayah yg ada di dalam Al Qur`an dgn beberapa hal.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:الم. ذَلِكَ الْكِتاَبُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ“Alif laam miim. Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yg bertakwa.” Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَى. سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى“Oleh krn itu berikanlah peringatan krn peringatan itu bermanfa’at orang yg takut akan mendapat pelajaran.” Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّماَ أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّماَ يَتَذَكَّرُ أُولُو الأَلْباَبِ“Adakah orang yg mengetahui bahwasanya apa yg diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar sama dgn orang yg buta? Hanyalah orang-orang yg berakal saja yg dapat mengambil pelajaran.”Dalam ayat-ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala membatasi bahwa Al Qur`an ini adl Al-Huda tetapi hanya bagi orang-orang beriman bertakwa orang-orang berakal orang-orang yg memikirkan dan orang-orang yg memang menginginkan al-haq . Ini adl penjelasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang syarat hidayah {dari Al Qur`an}. Artinya agar Al Qur`an ini menjadi Huda maka harus ada yg menerima sekaligus mengerjakan. Sehingga seseorang yg ingin memperoleh hidayah Al Qur`an ini harus berakal berfikir dan mau mempelajari ayat-ayatnya.Adapun seorang penentang; yg tidak mau memikirkan dan mempelajari ayat-ayatnya tidak akan mungkin mengambil manfaat yg ada di dalam Al Qur`an. Begitu pula dgn orang yg tidak mempunyai niat dan keinginan utk mendapatkan kebenaran atau kesadaran.

orang yg maksud dan tujuannya rusak di mana dia menempatkan dirinya utk menentang dan menyelisihi Al Qur`an. Dia pasti tidak akan menerima bagian sedikitpun dari hidayah Al Qur`an ini.Sedangkan mereka yg menyambut memikirkan makna-maknanya mempelajari ayat-ayat Al Qur`an dgn pemahaman dan niat yg baik dan benar serta bersih dari dorongan hawa nafsu niscaya dia akan terbimbing mendapatkan hidayah menuju tujuan-tujuan dan sasaran yg dicita- citakannya.Maka barangsiapa yg memahami bahwa Al Qur`anul ‘Azhim betul-betul menyandang semua sifat mulia bahkan paling tinggi dan sempurna serta paling bermanfaat bagi semua manusia.

Kemudian dia meyakini pula bahwa di dalamnya terkandung makna-makna agung yg selalu diulang-ulang dan semakin menambah keindahan serta kesempurnaannya tentulah dia memahami pula bahwa ketika seorang thalibul ‘ilmi mengamati tafsir satu ayat Al Qur`an dia akan terbawa utk memahami serta mengenal tafsir ayat-ayat lainnya. Dan selanjutnya dia dituntut utk beriman dan mengamalkan kandungan Al Qur`an tersebut.Asy-Syaikh Tsaqil Al-Qasimi dalam bukunya Sallus Suyuf menyatakan: “Sesungguhnya siapapun yg betul-betul memperhatikan dan mempelajari Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam niscaya dia akan menemukan bahwa ajaran Islam ini dibangun di atas dua prinsip utama yaitu At-Ta`shil dan At-Tahdzir. At-Ta`shil dalam perkara yg haq serta menjelaskannya. At-Tahdzir dari berbagai kesesatan dgn segala bentuk dan coraknya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan masalah besar ini dalam firman-Nya:فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْ بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انْفِصاَمَ لَهاَ“Karena itu barangsiapa yg ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yg amat kuat yg tidak akan putus.” {Al- Baqarah: 256}Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn jelas menerangkan bahwa tidak mungkin seorang muslim berada di jalan yg mulia dan lurus kecuali jika dia menghimpun kedua prinsip utama ini. Yaitu kafir kepada thaghut dan semua bentuk kebatilan serta beriman kepada Allah satu-satunya tidak ada sekutu bagi-Nya baik dalam rububiyah asma` was shifat maupun dalam Uluhiyah-Nya {sebagai tempat bersandar berlindung bergantung memohon doa syafaat dan sebagainya}.Maka sesungguhnya Al Qur`an itu berbicara tentang tauhid tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta perbuatan-perbuatan-Nya. Atau berisi tentang dakwah ajakan utk beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya tidak ada sekutu bagi-Nya serta melepaskan diri dari semua yg diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Atau berisi perintah dan larangan yg merupakan hak-hak tauhid dan pelengkap atau penyempurna tauhid tersebut. Atau berisi uraian tentang kemuliaan yg diterima oleh ahli tauhid di dunia dan akhirat sebagai balasan atas tauhid itu serta apa yg diterima oleh musuh-musuh tauhid di dunia dan akhirat.Jadi Al Qur`an itu seluruhnya berbicara tentang tauhid hak-hak yg harus ditunaikan dan balasan-balasannya. Secara umum al-jarh wat ta’dil sebagai wasilah utk menjaga kemurnian dan kelestarian syariat Islam ini juga kita lihat tersebar dalam ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yg mulia ini.

Mungkin dalam susunan yg tegas menunjukkan kejelekan suatu kaum bangsa atau masyarakat atau suatu perbuatan . Kadang dalam bentuk larangan tegas dan perintah menjauhinya. Sebaliknya dalam masalah at-ta’dil juga demikian.Sehingga jika kita dapatkan di dalam Al Qur`an semua amalan yg dianggap mulia oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya kemudian dipuji oleh Allah bahkan Dia memuji pelakunya gembira karenanya mencintainya atau mencintai pelakunya bahkan meridhainya mensyukurinya atau menafikan adanya ketakutan dan kesedihan dari pelakunya tertawa dan takjub terhadap pelakunya ini adl dalil bahwa amalan itu disyariatkan. Tentunya jelas ini merupakan bentuk-bentuk ta’dil.Sebaliknya tiap amalan yg dituntut oleh syariat utk ditinggalkan pelakunya dicela dimurkai dibenci dilaknat dihapus kecintaan atau ridla terhadapnya menyerupakan pelakunya dengan hewan ternak dinyatakan sebagai sebab Dia menelantarkan pelakunya menyatakan permusuhan dan perang terhadap pelakunya dan seterusnya maka ini adl dalil dilarang atau diharamkannya perbuatan tersebut. Dan ini adl sebagian dari bentuk jarh.Di sini akan kami paparkan sebagian dari ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yg menggambarkan kepada kita adanya jarh terhadap suatu masyarakat bangsa bahkan seseorang atau amalan tertentu agar kita menjauhi dan berhenti mengerjakannya.Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ وَتَبَّ. ماَ أَغْنَى عَنْهُ ماَلُهُ وَماَ كَسَبَ. سَيَصْلَى ناَرًا ذَاتَ لَهَبٍ. وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ. فِيْ جِيْدِهاَ حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah baginya harta bendanya dan apa yg ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yg bergejolak. Dan isterinya pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” Abu Lahab adl paman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg paling sengit permusuhannya terhadap beliau. Tidak beragama tidak memiliki rasa solidaritas kesukuan . Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menghinakannya sedemikian rupa sampai hari kiamat. Setiap lisan kaum mukminin akan senantiasa membaca ayat-ayat ini.Dan tentunya kita juga memaklumi bahwa Abu Lahab dan isterinya mempunyai kebaikan namun semua itu sia-sia krn kekafiran dan permusuhan mereka terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:يآ أَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنَّ كَثِيْرًا مِنَ الأَحْباَرِ وَالرُّهْباَنِ لَيَأْكُلُوْنَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْباَطِلِ وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ“Hai orang-orang yg beriman sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dgn jalan yg batil dan mereka menghalang-halangi dari jalan Allah.” Ayat ini mengandung tahdzir bagi hamba Allah yg beriman agar mereka berhati-hati sekaligus jangan meniru kebanyakan pendeta dan rahib yg suka memakan harta manusia dgn cara yang batil. Padahal kita tahu semua yg diberikan manusia kepada mereka ini adl krn ilmu dan ibadah mereka namun Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menganggap kebaikan itu.Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهاَ كَمَثَلِ الْحِماَرِ يَحْمِلُ أَسْفاَرًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِآياَتِ اللهِ وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ“Perumpamaan orang-orang yg dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adl seperti keledai yg membawa kitab-kitab yg tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yg mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yg zalim.” Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْناَهُ آياَتِناَ فَانْسَلَخَ مِنْهاَ فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطاَنُ فَكاَنَ مِنَ الْغاَوِيْنَ. وَلَوْ شِئْناَ لَرَفَعْناَهُ بِهاَ وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِآياَتِناَ فاَقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yg telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami kemudian ia melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu ia diikuti oleh syaitan maka jadilah ia termasuk orang-orang yg sesat. Dan kalau Kami menghendaki sesungguhnya Kami tinggikan nya dgn ayat-ayat itu tetapi dia cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya yg rendah maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya . Demikian itulah perumpamaan orang-orang yg mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” {Al- A’raf: 175-176}Ini adl celaan atau kritik yg sangat tajam sekaligus tahdzir agar kita menjauhi sifat buruk ini.Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:وَلاَ تُطِعْ كُلَّ حَلاَّفٍ مَهِيْنٍ. هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيْمٍ. مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيْمٍ“Dan janganlah kamu ikuti tiap orang yg banyak bersumpah lagi hina yg banyak mencela yang kian kemari menghambur fitnah yg sangat enggan berbuat baik yg melampaui batas lagi banyak dosa.” Terakhir kami ingatkan; bila seseorang sudah tidak lagi dapat diperbaiki dgn Al Qur`an dan As-Sunnah maka dgn perkataan apapun dia tidak akan mungkin dapat diperbaiki. Wallahu a’lam.{Dikutip dari majalah Asy Syariah Vol. II/No. 14/1426 H/2005 judul asli Al Jarh wa At Ta’dil dalam Al Qur’an karya Al Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar - murid asy syaikh Muqbil rahimahullah

Sumber : 

Selasa, 01 Juli 2014

Hakikat Kehidupan Dunia



Dunia yang begitu indah dan manis terkadang membuat terlena orang yang tinggal di dalamnya. Sehingga tidak sedikit dari kaum muslimin yang terlupakan akan kampung abadinya yaitu kampung akhirat. Kalau sekiranya setiap mukmin ketika ditanya, “apakah ia akan kekal di dunia?” pasti tidak ada yang mengatakan dirinya kekal. Mereka akan menjawab bahwa mereka akan kembali keharibaan Sang penciptanya. Akan tetapi karena minimnya pengetahuan agama tentang hakikat kehidupan yang sebenarnya dan keindahannya, dunia membuatnya terbuai dari perintah Allah dan Rasul-Nya. Sehingga segala urusannya selalu menomorsatukan dunia, mengambil ibarat dari orang barat “time is money”.

Maka gerak-gerik dan segala langkahnya selalu berbau dunia, perkara akhirat dijadikannya perkara yang paling belakang. Sedikit di sini kami ingin mengungkapkan hakikat dunia ini. Semoga bermanfaat.

AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH MENGGAMBARKAN DUNIA


Begitu banyak kita dapati di dalam ayat-ayat al-Qur’an yang mensifati kehidupan dunia dengan kehinaan. Di antara ayat-ayat yang menggambarkannya adalah sebagai berikut:  “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-permiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.”   (QS. Yunus: 24)

Firman-Nya: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” QS. al-An’am: 32)

Imam al-Qurthubi berkata: “Dikatakan perhiasan dunia adalah main-main dan senda gurau yaitu yang berhasrat terhadap kehidupan dunia maka tidak ada balasan baginya ia kedudukannya seperti main-main dan senda gurau, dan dikatakan juga laib wa lahwun yaitu kebatilan dan tipuan.” (al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, jilid 3 hal. 322-323)

Adapun Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan kehidupan dunia seperti yang ada pada beberapa hadits di bawah ini. Beliau menjelaskan: “Kehidupan dunia ini apabila dibandingkan dengan kehidupan Akhirat seperti seseorang yang mencelupkan jarinya ke dalam lautan. Perhatikanlah, kira-kira apa yang tersisa (di jarinya), beliau sembari mengisyaratkan dengan jari telunjuknya.”  (HR. Muslim no. 55 {7197})

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Dunia itu terlaknat, terlaknat apa yang ada di dalamnya kecuali dzikir kepada Allah dan apa yang dicintai-Nya, orang yang berilmu dan orang yang menuntut ilmu.”   (HR. Tirmidzi no. 2322 dan Ibnu Majah no.4112 dan dihukumi hasan oleh Syaikh al-Albani)

Syaikh as-Sindi rahimahullah berkata: “Dunia terlaknat; yang dimaksud dengan dunia ialah segala hal yang dapat menyibukkan diri dari Allah ta’ala dan menjauhkannya, Allah melaknatnya dan menjauhkan dari pandangan-Nya. (Syarah Sunan Ibni Majah hal. 428)

Dari Mustaurid bin Syaddad ia berkata: “Dahulu aku bersama rombongan kafilah yang berhenti bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di depan seekor bangkai anak kambing. Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

“Apakah kalian melihat ini, begitu hina di hadapan pemiliknya ketika mereka membuangnya. Para sahabat berkata: karena hina maka pemiliknya membuangnya, wahai rasulullah. Rasulullah bersabda:
“Dunia ini lebih hina di sisi Allah dibandingkan dengan bangkai kambing ini di hadapan pemiliknya.”  HR. Tirmidzi no. 2311 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengibaratkan dunia ini seperti melebihi bangkai kambing yang manusia enggan untuk mengambilnya. Akan tetapi realita yang kita hadapi dimana manusia saling berlomba-lomba untuk mengejar dan menggapainya, sehingga tidak heran jika manusia berusaha mendapatkannya dengan berbagai cara, baik dengan halal maupun yang haram. Ketika manusia berlomba-lomba mengumpulkan harta dan menggunakannya bukan di jalan Allah. Ini merupakan salah satu tanda-tanda hari kiamat. (Lihat: Asyratus sSa’ah karya Yusuf Wabil, hal. 148)

BAHAYA MENCINTAI KEHIDUPAN DUNIA


Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam sabdanya: “Barangsiapa yang kehidupan dunia sebagai puncak cita-citanya, maka Allah akan cerai-beraikan urusannya dan dijadikan kefakiran di depan matanya dan tidaklah dunia datang kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai niatnya, maka Allah satukan urusannya dan dijadikan baginya kecukupan dalam hatinya dan dunia datang kepadanya sedang ia tidak mengharapkannya.”  (HR. Ibnu Majah no. 4105 dan dihukumi shahih oleh Syaikh al-Albani)

Para Salaf berkata: “Sesungguhnya cinta terhadap dunia merupakan pokok dari segala kesalahan dan merusak dapat agama. Hal tersebut dinilai dari berbagai segi: 

Pertama: sesungguhnya mencintainya tanda dari mengagungkannya, padahal ia hina di sisi Allah, dan diantara dosa yang paling besar adalah mengagungkan apa yang Allah anggap hina. 

Kedua: sesungguhnya Allah melaknat, membenci, dan memurkainya, kecuali apa Allah kecualikan (sebagaimana dalam hadis di atas), maka siapa yang mencintai apa yang Allah laknat, benci dan murkai sungguh ia telah menceburkan dirinya ke dalam fitnah, kebencian dan kemurkaannya. 

Ketiga: sesungguhnya jika seorang hamba mencintainya dan menjadikan akhir dari tujuannya dan menjadikannya wasilah (sarana) dengan amalan-amalan yang mana Allah menjadikan dunia sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan ke negeri akhirat, ketika perkaranya menjadi terbalik dan membalikkan hikmah maka hatinya pun menjadi terbalik dan langkahnya pun berjalan menuju ke belakang (Lihat: ‘Uddah ash-Shabirin wa Dzakhiratu asy-Syakirin karya Ibnul Qayyim hal. 222)

REALITA KEHIDUPAN MANUSIA DI DUNIA


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).”  (QS. at-Takastur: 1-8)

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata: “Allah mengabarkan bahwa sesungguhnya bermegah-megahan menyibukkan manusia dan melalaikan dari Allah dan kampung akhirat sampai kematian menjemputnya.“ (‘Uddah ash-Shobirin wa Dzakhiratu asy-Syakirin, hal. 176)

Beliau berkata juga (di kitab yang sama hal. 173): “Kehidupan dunia sebenarnya tidak tercela, sesungguhnya yang menjadikannya tercela adalah perbuatan manusia di dalamnya. Dunia itu adalah
jembatan menuju surga atau neraka, akan tetapi ketika nafsu syahwat terhadap dunia, keterlenaan dan keterpalingan dari Allah dan negeri akhirat maka dunia menjadi tercela.”

KEHIDUPAN AKHIRAT KEHIDUPAN YANG KEKAL


Seorang mukmin yang beriman kepada hari akhir selalu mengedepankan kehidupan akhirat sebagai kehidupan yang kekal abadi. Ketika ia bekerja atau melakukan perbuatan yang bersifat duniawi, maka hendaknya ia menjadikan hal tersebut bernilai ibadah di sisi Rabb-nya, sehingga iapun menuai ganjaran dari hal tersebut. Lain ceritanya dengan orang yang tidak beriman dengan hari pembalasan, ia akan menjadikan segala potensi yang ia miliki dan kuasai untuk menggapai kehidupan dunia semata. Allah menggambarkan sifat akhirat sebagai negeri yang kekal abadi.
Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”  (QS. al- A’la: 17)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Pahala di sisi Allah pada hari kiamat nanti lebih baik daripada dunia dan lebih kekal, sesungguhnya dunia negeri yang fana, adapun akhirat lebih mulia dan kekal abadi. Bagaimana mungkin orang yang berakal mementingkan yang fana dari pada yang kekal, memperhatikan dunia padahal cepat binasa dan meninggalkan perhatiannya terhadap negeri abadi dan kekal.” (Tafsir Al-Quranul Adzim, 14/326)

Adalah Syadad bin Aus radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “Sesungguhnya kalian tidak akan mengetahui
kebaikan kecuali dengan sebab-sebabnya dan tidak akan mengetahui keburukan kecuali dengan sebab- sebabnya. Kebaikan seluruhnya dengan segala sisinya berada di surga. Keburukan seluruhnya dengan segala sisinya berada di neraka. Dan sesungguhnya dunia ibarat harta yang telah tersedia bagi orang yang baik dan yang buruk untuk menyantapnya. Dan akhirat adalah janji yang benar yang seorang Raja dan Maha Kuasa memutuskan perkara padanya. Pada setiap hal tersebut ada pengikutnya, maka jadilah pengikut akhirat dan janganlah kalian jadi pengikut dunia. (Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 34)

PENUTUP


Itulah sedikit untaian firman Allah dan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan sedikit tambahan yang semoga dengannya mengingatkan diri-diri kita dari yang kefanaan kehidupan dunia. Dan sebagai pengingat bagi yang terlupa akan langkah panjang yang akan dihadapi esok kelak. Semoga Allah selalu melimpahkan karunia dan taufiqnya dalam menjalankan ketaatan dan menjauhi larangan-Nya.

Sumber : http://buletin-aliman.blogspot.com